abu 's posts with tag: orang bilang...
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
nah, tergelitik dengan beberapa postingan soal selingkuh menyelingkuh berselingkuh (hayah kayak lagi meng i'rob), maka saya ngebrowse soal selingkuh dengan sehat. Tentunya selingkuh disini bukan selingkuh dalam artian negatif, makanya saya kasih judul Positifkan Selingkuhmu. biar basah dan pecah sekalian..
silahkan dibaca dari salah satu group web anak motornya indonesia
Selingkuh itu indah dan sehat namun para pelakunya wajib/harus tetap menjaga konsekuensi dari maksud dan tujuan berselingkuhnya. Jika anda benar-benar konsekuen maka mudah2an anda akan beruntung mendapat pengalaman dan pelajaran baru bagi anda dan orang lain. Mengapa Indah ? Sebab selingkuh bisa membuat seseorang menjadi merasa kembali seperti baru pertama kali berpacaran, suasana hati pun menjadi indah. Mengapa Sehat ? Sebab seseorang yang memiliki keadaan hati yang indah bisa membuat otak dan fikirannya menjadi lebih fresh, suasana fikiran segar dan nyaman. Mengapa harus menjaga Konsekuensi ? - Setiap orang yang akan berselingkuh harus mempunyai tujuan dari perselingkuhannya, sehingga perselingkuhan tersebut menjadi lancar dan terarah dan tidak mempertebal masalah apabila sedang mengalami kekalutan asmara. - Apabila anda seorang suami/istri/pacar berselingkuh maka dianjurkan untuk tidak sedang mencari cara untuk permusuhan / perselisihan / perceraian, sebaiknya perselingkuhan yang anda lakukan adalah semata untuk mencari jawaban mengapa anda jadi begini. - Jangan nodai perselingkuhan anda dengan niat nafsu sex semata, sebab jika demikian berarti sudah tidak sehat, dan saya anjurkan sebaiknya anda berpisah/bercerai saja secara baik2 barulah anda mencari pasangan yang anda senangi. - Umumnya orang berselingkuh itu karena diawali dengan adanya ketidakharmonisan hubungan dengan pasangan. Nah .. pada saat anda berselingkuh seharusnya anda berfikir dan memahami kenapa anda begitu baik, begitu harmonis, begitu lembut kepada pasangan selingkuh anda. Mengapa dengan pasangan anda yang sebenarnya anda tidak melakukan hal-hal seperti yang anda lakukan terhadap pasangan SLI anda. Bagaimanakah cara memindahkan perasaan, suasana dan tata cara peristiwa seperti itu kepada pasangan anda yang sebenarnya. Saya rasa anda lebih tahu cara untuk menerapkannya kepada pasangan anda yang sebenarnya. Mengapa selingkuh bisa menguntungkan ? - Dengan selingkuh anda bisa melakukan studi perbandingan terhadap pasangan anda. - Dengan selingkuh anda bisa mengembalikan kelembutan anda pada pasangan anda yang selama ini terkikis. - Dengan selingkuh anda akan menjadi lebih matang dan dewasa dalam bertindak dan berfikir. - Dengan selingkuh anda akan mendapatkan sebuah pengalaman baru dalam hidup anda, sehingga anda bisa menceritakannya pada orang lain. terutama pada diri anda sendiri. - Dengan selingkuh anda bisa mempelajari dan memahami perasaan orang lain. - Dengan selingkuh yang sehat dan konsekuen mudah-mudahan keharmonisan hubungan anda dengan pasangan anda yang sebenarnya akan kembali menguat dan semakin erat.
kalau ada apa-apa, jangan salahkan saya, salahkan orang-orang di link ini saja yah: http://www.honda-tiger.or.id/forum/selingkuh-itu-sehat-t18306.html?s=b2734e7bc7ce4860280f2bb048f20ad1&
dengan perubahan judul
yaps, sebenarnya saya telah menggunakan celana diatas mata kaki jauh sebelum mengenal manhaj ini, sejak masih pakai putih abu-abu bahkan ketika masih bercelana biru.
hingga akhirnya masuklah disalah satu kampus islam pula yang terkenal dengan molekul-molekul nyelenehnya. celana sih masih tetap seperti itu dan apa adanya tidak dibiarkan.
jangan tanyakan masalah anggapan sinis banyak orang tentang celana yang saya pakai, dari mulai tuduhan LDII sampai seloroh kebanjiran yo wes sak' karepmu dewe' saya terima dengan lapang dada dan kepala lega.
semester demi semester berlalu dan walhamdulillah semakin ada peningkatan yaitu yang tadinya berada diatas mata kaki lantas pernah menyentuk setengah betis (hehehe, ini cuma dikampus aja kalo hampir setengah betis mah, kalo event formal tetep celana bahan kayak bapak-bapak diatas mata kaki dikit)
sebagian dosen-dosen saya sih maklum dengan yang saya pakaa, karna maklumlah jargon hak asasi dan menghargai ideologi beragama tiap orang menjadi ciri khas kampus kami.
hingga sempat juga sih paling ekstrim saya cuma pakai sendal dan celana setengah betis persis masuk kedalam ruang kelas mata kuliah Filsafat Dakwah. dosen senior yang dihormati dosen lain itu lantas menegur saya dengan ucapan "hei, besok lagi pakai celana yang benar !! (padahal mah kalo di kajian celana segitu udah bener), dosennya pakai rapi masak mahasiswanya pakai seperti itu, besok lagi gak boleh masuk.. !!!", teguran dosen saya yang dianggap biasa dengan anggukan kepala, begitupun dengan teman-teman yang selama 3 tahun bersama dalam satu kelas memahami gaya saya serta merta pun membiarkan cuma pada nyengir kuda aja..
sampai akhirnya kemarin pas UAS terakhir (mungkin duduk dibangku buat ujian terakhir kalinya, sebelum skripsi semester depan), seorang pengawas menegur dengan ucapan "nama kamu siapa ??" saya jawab "Rizki bu, Rizki Aji Hertantyo" lantas ia sejurus memberikan wejangannya kepada saya, "Rizki celananya bagus deh, besok lagi jangan dipakai yah.." saya jawab dengan bahasa yang makin enak "Oke bu, besok khan udah gak UAS (lagi-lagi sembari senyum tanda kemenangan melawan dosen), ini UAS terakhir" jawab saya... si ibu kayaknya harus memenangkan babak ini hingga akhirnya ia berkata agak keras "Ya udah, kamu keluar aja sekarang sana dan tinggalkan ruangan ini..!!", teguran keras bagi saya.. cuma lagi-lagi, saya balas dengan sebuah nyengir kuda, dan berharap menyegerakan ujian dengan target setengah jam.. setelah selesai langsung saya tinggalkan ruangan sebelum tuh pengawas menarik daftar absen dan mencoret nama saya..
hehehe, apa karena celana yang terlalu tinggi ?? atau karena si ibu lagi sensi.. padahal kurang baik apa sih bu saya ini.. khan udah dibantu membagikan lembar soal dan jawabannya kepada teman-teman.. bilang kek "Jazakumulloh Khairan Katsiraan yaa Rizki.."
hehehe... yang puas dan berbahagia ialah teman-teman sekelas yang jelas lagi-lagi tertawa diatas kebahagiaan saya (lhoh??)
Dalam satu kesempatan seorang bapak bertanya kepada seorang pemuda “ Gimana sih itu mas, padahal dia udah ustadz terus suka ikut kajian dimana-mana, tapi kenapa sih mas masih aja ikut-ikut selamatan kematian atau nggak acara-acara yang penuh bid’ah…pak kyai itu juga kayak gitu sama..padahal khan dia pernah baca kitab yah mas, masa sih dia gak tahu isi kitabnya, kitab gundul itu lho mas...!! “ Itulah sebuah pertanyaan yang acap kali dilontarkan oleh sebagian kaum muslimin yang meminjam istilahnya Al Ustadz Armen Halim Naro hafidzhahullah dengan sebutan “mereka adalah orang-orang yang hanif”. Dan masih banyak lagi tentunya pertanyaan-pertanyaan lain maupun celetukan-celetukan ringan yang menunjukkan tanda-tanda kegelisahan sebagian kaum muslimin yang walhamdulillah, Alloh memudahkan jalan mereka-mereka tersebut untuk mendapatkan hidayah dari Alloh berupa ditunjukkannya jalan kebenaran dan dimudahkannya untuk selalu tetap istiqomah diatasnya. Yah, kali ini kita akan mencoba membahas tentang suatu permasalahan yang menyebabkan syaithan terlempar dari surga kedalam neraka selain karena kesombongannya. Yang menyebabkan paman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak masuk Islam karena hal ini. Sebuah penyakit yang semestinya seorang muslim bara’ atasnya dan lebih taslim terhadap dalil dibandingkan dengan perasaannya atau yang selanjutnya kita akan sebut sebagai hawa nafsu yang condong kepada keburukan dan kesesatan bahkan dapat menjadikan seorang muslim menjadi dhallun mudhillun ( sesat dan menyesatkan ). Mungkin ada sebagian pembaca yang nantinya akan bertanya-tanya, “lantas apa kaitannya dengan pembukaan dari paragraf diatas dan tulisan yang akan dibahas ?”. maka jawabannya ialah tunggu, tenang dan sabar dahulu, Insya Alloh akan ditemukan bila pembaca membacanya dengan cermat dan memahami apa yang dituliskan setelah parafgraf ini, Insya Alloh. Bukan barang yang asing lagi bagi para pemegang sunnah yang selalu istiqomah diatas manhaj yang haq. Bahwa ketika hawa nafsu (penulis hanya akan membatasi akan hawa nafsu disini ialah hawa nafsu dalam menjalani kehidupan ber-Islam dan memahami Islam) berada diatas menara gading atau telah menguasai kehidupan seseorang akan sulit untuk menemukan kebenaran bahkan kembali kepada jalan kebenaran, sekalipun ia seorang tokoh besar, ustadz, kiai, mubaligh, habaib, syaikh, namun ketika hawa nafsu menjangkiti dirinya dan memiliki kekuasaan atas dirinya akan sulitlah ia untuk bisa dapat kembali kepada jalan keridhaan Rabbnya selain atas kehendak Alloh tabaraaka wa ta’ala, Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman “ Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? “ ( QS. Al Jatsiyah : 23 ). Perhatikanlah hanya Alloh saja yang dapat memberikan hidayah dalam hal ini bagi mereka-mereka yang telah tersesat dalam kubangan hawa nafsunya dan Alloh pulalah yang berhak mengunci mati hati-hati mereka maupun pendengarannya para pengikut hawa nafsu, sekalipun tak jarang diantara mereka mengetahui dan memahami banyak kitab-kitab Arab yang mereka kaji, banyak penjelasan-penjelasan yang mereka terima, dan tentunya tak sedikit penjabaran maupun pembahasan tentang hakikat ke-Islaman yang benar namun sungguh sangat disayangkan lagi-lagi mereka tetap terjerumus kedalam lumpur hawa nafsu yang diikutinya dengan serta merta alias hawan muttaba’. Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjelaskan bahayanya hawa nafsu ini. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan “ Ada beberapa golongan manusia yang dirasuki oleh hawa nafsu mereka sebagaimana penyakit anjing gila merasuki jasad penderitanya, tidak ada satu persendian pun kecuali penyakit itu merasukinya. “ ( As Sunnah, karya Ibnu Abi Ashim, hal. 7. seperti yang penulis nukil dari buku terjemahan berjudul Membantai Ahlul Ahwa dan Bid’ah karya Tsaqil bin Shalfiq Al-Qasimi terbitan Pustaka As Sunnah Jakarta, hal 6 ). Kemudian disebutkan riwayat lain dari Abu Amir Al-Hauzani, bahwasanya dia menunaikan haji bersama Mu’awiyah, dia mendengarnya berkata : pada suatu hari Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam berdiri diantara kami lalu mengatakan “ bahwa ahlul kitab sebelum kalian terpecah menjadi tujuh puluh dua golongan dalam mengikuti hawa nafsu, ketahuilah bahwa ummat ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan dalam mengikuti hawa nafsu semuanya di neraka satu, yaitu jamaah, ketahuilah bahwasanya ada diantara ummatku segolongan orang yang mengikuti hawa nafsu, dan hawa nafsu itu pun merasuki mereka, sebagaimana penyakit anjing gila menyusup pada penderitanya, tidak mensisakan satu pangkal, tidak pula persendian pun darinya kecuali penyakit itu memasukinya. “ ( As Sunnah, Ibnu Abi Ashim hal 7, dan terdapat pula di buku Membantai Ahlul Ahwa dan Bid’ah, hal. 7 ) Begitu pula dengan apa yang dikhawatirkan oleh Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya : “ Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan padamu setelahku adalah perut kalian, kemaluan kalian, dan perkara hawa nafsu. “ ( As Sunnah, Ibnu Abi Ashim, hal. 12. Ibid, hal. 7 ). Maka hendaknyalah siapapun yang mengaku dan merasa dirinya mencintai Alloh dan Rasul-Nya sebagaimana ia mencintai dirinya menjadikan kehidupan beragamanya tidak mengekor pada hawa nafsu yang dituruti semakin menjadi-jadi. Terlebih setelah mereka mengetahui bahwa mengikuti hawa nafsu itu merupakan jalan-jalan menuju kehancuran pemahaman seseorang terhadap agamanya. Tak jarang karena hawa nafsu yang menggebu seseorang ustadz yang paham bid’ah terdorong oleh hawa nafsunya melaksanakan perbuatan tahlilan kematian, selametan, kendurian, maulidan, rajaban, sya’banan, dan apapun itu padahal ia mengetahui bahwa itu salah namun ia menjawab dengan jawaban yang menunjukkan rapuhnya akidah mereka karena mereka menganggap dari sanalah sumber dana penghidupan mereka. Atau para da’i yang Alloh telah memberikan kemudahan mereka untuk belajar memahami Islam langsung dari sumbernya seperti kota-kota ilmu yang berada di negara-negara Arab dan mereka pun bersungguh-sungguh dalam belajarnya, justru malah asyik duduk bersama orang-orang kafir di kursi parlemen sepulangnya dari belajar mereka, lantas kemana pulakah kaidah al wala wal bara’ mereka ?? tak jarang pula ada da’i atau bahkan habaib yang banyak menuntut ilmu di negara-negara yang penuh dengan ilmu namun tak jarang ketika pulang ke Indonesia malah menjadi pelopor kesesatan dan kemungkaran bukan mengajak ummat dengan dakwah yang benar bahkan rela dirinya menjadi perantara wasilah bathil antara seorang muslimin awwam dengan Rabbnya, atau ia rela pula bagian-bagian tubuhnya atau sisa makanannya menjadi bentuk tabarruk bathil bagi para pengikutnya (bahkan orang-orang yang berfikir alias kaum logika dan penyembah akal dalam memahami agama sempat berseloroh dan nyeletuk “ apakah si habib itu telah menjadi Nabi baru bagi mereka ??” ). Ya inilah hawa nafsu yang diperturutkan dan tentunya masih banyak sekali contoh-contoh lain yang berkaitan dengan permasalahan hawa nafsu ini. Mari kita simak bentuk-bentuk kehati-hatian para salafush shalih dalam menyikapi hawa nafsu ini. Dengarlah nasihat Muhammad Al Kindi, “ Aku mendengar guru-guru kami berkata, ‘Jika anda dihadapkan pada dua hal yang anda tidak tahu mana dari keduanya yang diridhai Alloh, maka lihatlah yang paling dekat kepada hawa nafsu anda, kemudian ambillah yang berlawanan dengannya. Karena kebenaran itu berlawanan dengan hawa nafsu. “ ( Hilyatul Auliya 18 / 10 ). Bahkan Al Imam Al Barbahari memperingatkan tentang bahaya hawa nafsu ini di kitabnya Syarhus Sunnah dan beliau rahimahullah menempatkannya pada poin kelima dengan perkataan “ Ketahuliah wahai saudaraku rahimahumulloh, bahwa agama adalah hanya ajaran yang datang dari Alloh subhanahu wa ta’ala dan bukan berdasarkan pada ketetapan akal dan pemikiran manusia. Semua ilmu agama bersumber dari Alloh dan Rasul-Nya, maka janganlah Anda mengikuti hawa nafsu, sehingga anda terhempas dari agama dan keluar dari Islam. Tidak ada alasan bagimu, sebab Rasulullah shalalallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan tentang sunnah kepada seluruh ummatnya dan mengajarkan secara tuntas kepada semua para sahabatnya. Mereka adalah Al-Jama’ah dan Sawadul A’dzam. Sawadul A’dzam ialah kebenaran dan para pembelanya, maka barangsiapa yang menyelisihi para sahabat Rasul dalam sebagian masalah agama, ia telah kafir “ ( Syarhus Sunnah, point ke- 5 ). Bahkan Yunus bin Ubaid pernah melihat anaknya –saat anaknya keluar dari tempat pengikut hawa nafsu dan seorang ahli bid’ah yaitu Amru bin Ubaid- lantas dia ( Yunus bin Ubaid ) berkata : “ Wahai anakku, kamu keluar dari mana ? “. Dia berkata (si anak) “ Dari rumah si fulan (yaitu Amru bin Ubaid Al Bashry tokoh Mu’tazilah tulen, mampus tahun 143 H) “ . Maka Yunus bin Ubaid berkata kepada anaknya, “ Wahai anakku, seandainya aku melihatmu keluar dari rumah seorang waria (banci), lebih aku senangi daripada kamu keluar dari rumah si Fulan. Dan jika engkau bertemu dengan Rabbmu dalam keadaan berzina lagi fasik atau mencuri lagi berkhianat, lebih aku cintai daripada engkau bertemu dengan Rabbmu dengan membawa pendapat si Fulan dan si Fulan. “ Yunus bin Ubaid sangat paham bahwa waria tdak akan menyesatkan agama anaknya, sementara ahli bid’ah dan hawa pasti menyesatkan hingga dapat membuat kafir seseorang. ( Syarhus Sunnah oleh Al Barbahari, point ke 149 ). Demikianlah akhirnya selesai pulalah sedikit pembahasan tentang wajibnya kita berusaha untuk menjaga diri dan membentenginya dari kejahatan hawa nafsu yang menggebu-gebu terlebih hal ini menyangkut urusannya dalam masalah agama, sebab hawa nafsu itu tidak terlepas dari dua hal bisa jadi itu menjadikan seseorang ghuluw atau bisa jadi menjadikannya orang-orang yang meremehkan maupun mengurang-ngurangi sesuatu. Sebab seperti yang telah dikemukakan diatas bahwa dimanapun yang namanya hawa nafsu selalu menjadi lawan dari kebenaran. Tidaklah seseorang akan mudah mendapatkan hidayah dari Alloh bila di dalam hatinya kedudukkan hawa nafsu masih berada di klasemen teratas divisi utama atau masih tetap tenang berada diatas menara gading. Semoga pembahasan ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca yang ingin mengambil manfaat dari tulisan ini. Mohon maaf bila terdapat kesalahan dan kekurangan, tentunya koreksi masih penulis tunggu dan penulis terima bantahannya bila hal itu lagi-lagi tidak keluar dari lisan pembantah melainkan hanya hawa nafsu dan akal tanpa hujjah, maaf pula bila tulisan ini terlalu panjang sehingga membuat kelelahan para pembaca. Semoga kita tidak tergolong dengan apa yang difirmankan oleh Alloh Azza wa Jalla dalam ayat ini. “ Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir. “ ( QS. Al A’raaf : 176 ) “ Dan kami Telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang Telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat diantara kamu[422], kami berikan aturan dan jalan yang terang. sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, Maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang Telah kamu perselisihkan itu. Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang Telah diturunkan Allah), Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.“ ( QS. Al Maidah : 48 – 49 ) Terakhir penulis tutup dengan sebuah do’a yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ashim yang sanadnya sampai hingga Ziyad bin Allaqah yang ia dengar dari pamannya, bahwasanya Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a dengan do’a ini “ Ya Alloh jauhkanlah aku dari berbagai kemungkaran akhlak, hawa nafsu dan penyakit. “ ( As Sunnah, hal 12. nukil dari Membantai Ahlul Ahwa dan Bid’ah, hal. 7 ) Dan doa ini “ Ya Alloh, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepadamu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, kekikiran, pikun, dan adzab kubur. Ya Alloh berikanlah ketakwaan pada diriku dan sucikanlah ia, karena Engkau-lah sebaik-baik Rabb yang mensucikannya, Engkau Pelindung dan Pemeliharanya. Ya Alloh, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, nafsu yang tidak pernah puas, dan do’a yang tidak dikabulkan. “ ( HR. Muslim no 2722 dan An Nasa’i VIII / 269. diambil dari Do’a dan Wirid, Mengobati Guna-Guna dan Sihir Menurut Al Qur’an dan as-Sunnah karya Yazid bin Abdul Qadir Jawwas, hal. 272 –do’a bhs. Arabnya dibaca dibuku itu yaa ana gak ada font Arabic, afwan-, Cetakan Ke-Enam, Pustaka Imam Syafi’i ). Wallahu ‘alam bi shawwab... ( maaf..maaf yah kalau kepanjangan tulisannya )
kenapa sih membaca Fadhailul Amal setiap habis shalat gak diganti aja dengan Syarh Riyadhus Shalihin, kenapa sih dzikir Al Matsurat yang ada do'a Rabithahnya gak diganti aja dengan Hisnul Muslim atau Dzikir Pagi dan Petang terbitan Pustaka Imam Syafi'i, kenapa sih membaca Nidzamul Islam gak diganti aja dengan Syarh Ushul I'tiqod Aqidah Ahlusunnah wal Jama'ah, kenapa sih membaca Ihya 'Ulumuddin gak diganti aja dengan Jami'ul Ulum wal Hikam, kenapa sih membaca Fii Dzilalil Qur'an gak diganti aja dengan Tafsir Ibnu Katsir, kenapa sih..kenapa sih..kenapa sih...?????? dan banyak pertanyaan menggelayut lainnya yang hanya bisa kujawab dengan  untuk sahabatku yang seringkali bertanya tentang ini dengan memulai perkataan " kenapa sih"
Kaum muslimin yang berbahagia, sebagian orang saat ini masih saja ada yang mengira bahwa apa-apa yang mereka lakukan saat ini telah sesuai dengan syariat islam yang mulia. Diantara mereka ada pula yang menyangka bahwa yang dilakukan seumur hidupnya dengan penuh keyakinan dirinya telah sesuai dengan ajaran islam, bahkan ada pula yang mengatakan bahwa yang diterimanya dari orang tuanyakah, kyainya, gurunya, murabbinya, ustadnya, atau pembimbing spiritualnya sekalipun secara sadar ataupun tidak telah meyakini pasti sesuai tak mungkin salah dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Teringat pepatah Arab “semua cinta laila, tapi laila hanya mencintai satu” dengan bahasa lain semua mengaku cinta Alloh dan Rasul-Nya tetapi yang diinginkan Alloh dan RasulNya kan hanya yang sesuai dengan yang di perintahkan oleh Alloh dan Rasul-Nya pula. Seakan akan sangkaan sebagian kaum muslimin tanpa pertanyaan sesuaikah dengan Al Qur’an dan As Sunnah apa yang mereka perbuat telah terjebak dan terjerumus ke dalam suatu fanatisme dan taqlid (asal dari kata qiladah yang berarti mengikat, mengalungkan) kepada apa-apa yang mereka tak ketahui landasannya.
Sebenarnya bila kita mau jujur dan berusaha untuk mencari dan bertanya pada hati nurani kembali. ”Apakah saat ini islam yang saya lakukan ini telah sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah ?” Ikhwan tanyakanlah pada diri antum dan hati nurani antum yang sejujurnya. Jauh sebelum kita lahir ke bumi ini Alloh telah berfirman di dalam QS. Al Maaidah : 104, ” Dan apabila dikatakan kepada mereka, ” Marilah mengikuti apa yang diturunkan oleh Alloh dan (mengikuti) Rasul. ” Mereka menjawab, ”Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya). ” Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak pula mendapat petunjuk.” Di dalam QS. Al Baqarah : 170 Alloh pun telah menegaskan ” Dan apabila dikatakan kepada mereka, ”ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh. ” mereka menjawab, ”(tidak!) kami mengikuti apa yang kami dapati pada nenek moyang kami (melakukannya).” padahal, nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apapun, dan tidak mendapat petunjuk. Betul sekali letak terjatuhnya kita dalam memahami masalah din ini ialah dikarenakan hampir sebagian besar umat muslim di sini (Indonesia) menjalankan agamanya berdasarkan ikut-ikutan saja. Diantara mereka tidak memiliki bashirah dan hujjah yang kuat bila ditanyakan ”engkau melaksanakan hal seperti ini apakah sudah ada tuntunanya dari Rasululloh ?” kemungkinan besar diantara mereka menjawab ” kami tak tahu, seperti inilah yang diajarkan kepada saya. Dan guru/kyai/murabbi/ustadz saya mengajarkan ini mereka islam dan ’alim jadi saya pikir /rasa ini bagian dari Islam”. Dan banyak lagi perkataan seperti ini dan sejenisnya. (ada sebuah buku berbahasa indonesia bagus dengan judul ”Lau Kanaa Khairan Lasabakuna Ilaih” yang ditulis oleh Abdul Hakim bin Amir Abdat, terbitan Darul Qolam Jakarta. Selain itu ada vcd dengan judul ”Tegakkan Dakwah Dengan Hujjah dan Dalil” yang berisi penjabaran tentang permasalahan seputar syubhat din yang mulia ini oleh Ust. Abdul Hakim bin Amir Abdat). Terlebih lagi bila diantara mereka banyak yang ikut-ikutan membenci apa yang dibenci oleh gurunya, dan menyukai apa yang disukai oleh gurunya sekalipun tidak ada dalil sekalipun ada pasti dhaif dan maudhu atau salah dalam kaifiyahnya tentang hal tersebut. Misalkan Kyainya merokok ia juga (murid) ikut merokok, dan ditanyakan ”lho mas kok anda merokok bukankah di dalam islam itu haram?” dengan tangkas dan serta merta ia menjawab ”eh, kata kyai saya merokok itu boleh. Kyai saya itu tinggal 15 tahun di Mekkah, ia lebih tahu islam ini dalilnya –qola Rasulullah inna dukhanun halal- berkata Rasulullah sesungguhnya merokok itu halal” Ya ampun dalil darimana ini, dan mengatakan kyai saya 15 tahun di Mekkah lagi. Kita balikin aja dengan perkataan seperti ini ”Abu Jahal, Abu Lahab seumur hidupnya tinggal di Mekkah bahkan ketemu Rasulullah tapi tetep aja namanya kadung kesemsem ya udah seperti itu jadinya ahlu naar” atau ada juga mantan pejabat teras di negeri ini yang hafal 30 juz pendidikan S1-S3 di Arab Saudi justru malah tukang korupsi percaya pula dengan mistik/cerita khurafi lagi. Dengan demikian tak jaminan tinggal di Saudi sekalipun. Di akhir kesempatan ini kami mengatakan janganlah mengikuti sesuatu tanpa dasar dalil yang dipertanggung jawabkan. Firman Alloh ” Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan dimintai pertanggung jawaban” (QS. Al Isra : 36) Selain itu janganlah diantara kalian sangat fanatik mengikuti mazhab (terlebih bila mengatakan diluar mazhabnya sesat). Perhatikanlah ini perkataan para Imam Mazhab yang mencela taklid. Al Imam Abu Hanifah mengatakan : ”tidak halal bagi siapapun mengambil pendapat kami tanpa mengetahui darimana kami mengambilnya.” dalam riwayat lain beliau mengatakan ”haram bagi siapapun yang tidak mengetahui dalil yang saya pakai untuk berfatwa dengan pendapat saya. Karena sesungguhnya kami adalah manusia, perkataan yang sekarang kami ucapkan, mungkin besok kami rujuk (kami tinggalkan)”. Al Imam Malik mengatakan : ”Saya hanyalah manusia biasa, mungkin salah dan mungkin benar. Maka perhatikanlah pendapatku, apabila sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka ambillah. Dan apabila tidak sesuai dengan keduanya maka tinggalkanlah.” Al Imam Asy Syafii (Nashirus sunnah, yang memiliki pengikut terbesar terlebih di Indonesia dan Asia), mengatakan : ”Semua permasalahan yang sudah disebutkan dalam hadist yang shahih dari Rasululloh dan berbeda dengan pendapat saya, maka saya rujuk dari pendapat itu ketika saya masih hidup atau sesudah mati.” dalam riwayat lain mengatakan ”idzaa shahil hadist fa huwa mazhabi, jika hadist itu shahih maka itulah mazhabku.” Al Imam Ahmad bin Hambal, mengatakan : ” Janganlah kalian taqlid kepadaku dan jangan taklid kepada Malik atau Asy Syafi’i, atau Al Auza’i, ataupu Ats Tsauri. Tapi ambillah darimana mereka mengambilnya.” (semua pendapat ini dikutip dari majalah Asy-Syariah vol 1/ no.01/ 1424H /2003 ) Semua para salafush shaleh merujukkan perkataannya kepada Qalaallah wa Qalaa Rasul. Pendapat mereka tidak mau mutlak ditelan bulat-bulat dan tidak mau di ikuti bila itu bertentangan dengan nash dan dalil. Maka darimana kita akan mengambil, inilah perkataan yang mulia dari Rasulullah “ Maka sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang masih hidup tentu akan melihat perselisihan yang banyak, maka peganglah sunahku dan sunnah khulafaur rasyidin mahdiyin, peganglah dengannya serta gigitlah dengan gigi-gigi gerahammu. Dan tinggalkanlah oleh kalian perkara-perkara yang baru dalam agama ini karena sesungguhnya setiap yang baru dalam agama ini bid’ah dan setiap bid’ah sesat “ (dikeluarkan oleh Abu Dawud 4607 dan Tirmidzi 2676 dan berkata Tirmidzi: hadits hasan shohih). Seperti apa yang dikatakan oleh Imam Malik ketika melakukan muhadhharoh di Masjid Nabawi ”setiap orang bisa salah bisa benar kecuali pemilik kubur itu (seraya tangannya menunjuk makam Rasulullah shalallahu ’alaihi wa sallam) Semoga tulisan ini dapat bermanfaat, dan apa yang kami kerjakan semata-mata hanya mengharap ridha Alloh. Pasti di tulisan ini banyak kesalahan mohon maaf apabila menyinggung perasaan karena tulisan ini hanya bersifat –wata’awuna ’alal birri wa taqwa- saran dan kritik kami terima serta bantahannya, Wallahul Musta’an.
ikhwan / akhowat sering denger gak perkataan itu. Bahkan pernah lho belum lama ini saya denger perkataan seorang ustad yang lagi naik daun dan sedang tenar-tenarnya bilang kurang lebih begini “ biarin ceramahnya seru apa gak yang penting tepuk tangan..” ya subhanallah ini orang gimana sih justru malah disuruh tepuk tangan. Tulisan ini bukan lantas menjadikan sebagai hakim dakwah tapi mendudukkan dakwah sesuai dengan posisinya. Sebab bicara tentang dakwah ana sendiri mahasiswa fakultas dakwah jadi mungkin tulisan ini bisa mewakilkannya. Semata-mata hanya mengharapkan keridhaan Alloh dalam menyampaikan ‘ilmu yang telah kami terima sebagai sarana tashfiyah dan tarbiyah. “ Serulah ( manusia ) kepada jalan Robbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik Sesungguhnya Robbmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang terseat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. “ ( QS.An Nahl : 125 ) Ibnu Katsir berkata, “Allah memerintahkan utusan-Nya, Nabi Muhammad agar menyeru manusia supaya taat kepada Allah dengan hikmah yaitu dengan membacakan Al-Qur’an dan Sunnah, dengan mauidhoh hasanah yaitu menyebutkan larangan dan ancaman-Nya, agar mereka takut siksaan Allah dan dengan jidal yang hasanah yaitu membantah mereka dengan cara yang baik bila mereka perlu bentahan, dengan lembut dan kata-kata yang indah sebagaiman firman Allah “ Dan janganlah kamu membantah ahli kitab kecuali dengan cara yang baik, kecuali bila mereka berbuat zhalim.” Dan seperti firman Allah ketika memerintah Nabi Musa dan Harun untuk memenuhi Raja Fir’aun “Hendaklah kamu berdua berbicara dengannya dengan perkataan yang lembut, barangkali dia mau mengambil peringatan atau takut, “ karena Dialah Allah yang lebih tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya yang benar. “ ( Tafsir Al Qur’anul Adzhim ) Memang menyampaikan suatu kesalahan lebih banyak risikonya dibandingkan dengan menyampaikan kebaikan. Oleh karena itu banyak sekali diantara ustadz-ustadz yang saat ini di setiap lingkungan bertebaran baik yang baru ataupun yang lama jadi senior (ini bahaya bila dalam berdakwah sudah ada predikat senior). Diantara mereka lebih suka menyerukan kepada fadhail amal dan tak berusaha mencari apakah hadist yang ia sampaikan betul atau tidak (shahih/dhaif), ayat Al Qur’an yang mereka tafsirkan sesuai dengan para mufassir yang tsiqoh atau tidak. Atau justru mereka malah lebih senang mengatakan “asal jemaah bisa tertawa, senang, pulang dengan cerita dongeng lucu-lucuan, dan nama saya (si ustadz) semakin terkenal” nas’alulloha wa lakum ‘afiyah bila ini yang terjadi. Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan ( Muqadimmah ; Minhajul Anbiya’ Fid Da’wati Ila Allah Fihil Hikmatu Wal ‘Aql )mengatakan “ Tidaklah layak orang-orang yang bodoh menjadi seorang da’i, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah kepada Nabi-Nya. Katakanlah, “ inilah jalan ( agama ) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak ( kamu ) kepada Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik. “ ( QS. Yusuf : 108 ). Klo boleh mengatakan, syaikh bagaimana kami mengetahui bahwa si fulan duat itu bodoh dan masyarakat awwam tak mengetahuinya. Dan seketika itu teringat perkataan Asy Syaikh Muqbil ibn Hadi Al Wadi’i pun menegaskan “ Kita sekarang sudah berada pada masa di mana kebenaran telah terbalik sebagaimana yang telah diberitakan oleh Rasulullah. Para ahli ilmu di permulaan langkah mereka dianggap sebagai orang yang akan membela dan menjaga islam karena dikenal melalui sikap mereka. Kita tidak menduga setelah itu kalau mereka telah sampai ke batas membela kekufuran dan menjadikan kekufuran itu sebagai suatu kewajiban. Mereka menjadikan Bid’ah sebagai Sunnah, kesesatan sebagai petunjuk dan penyelewengan sebagai bimbingan ( semua itu ) bukan sesuatu yang asing bagi dirimu “ ( Tuhfatul Mujib hal 297 ) Lantas fenomena yang terjadi saat ini para du’at bagi masyarakat awwam justru malah membenci sunnah yang telah di bawa oleh Rasulullah. Melewati batas syariat dengan ikut gabung bersama para selebritis dengan membuat cd lagu rohani. Saya tegaskan dakwah islam tidaklah menggunkan musik bila sekarang itu yang terjadi apa beda kita dengan orang nashrani / kristen yang beribadah dengan menggunakan musik, perhatikanlah ini wahai para dai yang menyerukan kepada islam khususnya bagi yang terkenal dan sudah terlanjur terkenal. Atau justru antum semua menyerukan para jemaah pendengarnya kepada kebaikan sedangkan antum sendiri tak mengamalkannya “ Mengapa kamu suruh orang lain ( mengerjakan ) kebaktian, sedang kamu melupakan dirimu sendiri padahal kamu membaca Al Kitab ( Taurat ) ? maka tidakkah kamu berpikir.“ ( QS. Al Baqarah : 44 ) Ikhwan tulisan ini bukanlah ajang pelampiasan bagi kami untuk menghakimi dakwah yang telah menyimpang dari manhaj salaf lalu memaksakan manusia untuk mengikuti manhaj salaf (sekalipun itu merupakan sebuah kewajiban untuk menapaki manhaj tersebut bila telah memahaminya dan telah sampai hujjah atasnya ). Tugas kita adalah hanya untuk menyampaikan diterima atau tidak tergantung pribadinya. Dan tempatkanlah dakwah sesuai dengan tempatnya jangan menjadikan dakwah sebagai ajang komersialisasi dan upaya meraup untung. Dari Abu Hurairah berkata, “ Rasulullah bersabda, ‘ Akan datang pada manusia tahun-tahun yang menipu, orang yang berdusta dianngap jujur, yang jujur dianggap dusta. Orang yang khianat dianggap amanah dan yang amanah dianggap khianat,dan Ruwaibidhoh berbicara’ Dikatakan , ‘ Apa maksud Ruwaibidhoh?’ Beliau menjawab, Orang pandir yang berbicara masalah ummat. “ ( HR. Ibnu Majah, Al Hakim dan Ahmad ) Wallahu ‘alam * ditunggu kritik dan koreksinya..
Sebagian orang saat ini di Negara kita ini, memandang orang yang mengenakan symbol agama di dalam dirinya itu sebagai keanehan. Contohnya ketika seseorang ber-janggut lebat, orang-orang akan lebih sering mengucapkan “ awas ada mbe’ (maksudnya kambing) lagi jalan..” atau ada lagi bila melihat orang mengenakan gamis bagi laki-laki mereka sering kali mengatakan “ kok laki-laki pakai daster yaa, emang lagi hamil mas..” ada pula bila wanitanya mengenakan cadar, dengan hijab menutupi seluruh tubuh sekaligus mengenakan sarung tangan karena menjaga diri agar tak bersentuhan dengan lawan jenis dikatakan “ awaas ninja lewat…”. Dan tentunya masih banyak lagi perkataan lainnya.
Sekilas lalu perkataan itu tak mengandung konsekuensi apapun, terlebih lagi yaa memang jika perkataan tersebut dikatakan oleh kebanyakan orang yang belum mengetahui lebih banyak tentang din yang mulia ini. Tetapi sesungguhnya hal itu dapat berakibat fatal, karena dengan adanya label seperti itu membuat seseorang yang mengenakan busana agak berbeda dianggap aneh, berbeda dengan yang biasanya dan kemungkinan besar terjadi diskriminasi dalam kehidupan sosialnya yang membuatnya jadi kurang untuk bergaul. Terlepas dari sering adanya tanpa disengaja pertanyaan dan jawaban, bantahan, dan diskusi yang sering dilontarkan masyarakat luas kepada kawan-kawan saya sesama penuntut ilmu syar’i yang Walhamdulillah dengan sabar mereka menjawab pertanyaan teman-teman yang belum paham, mahasiswa pergerakan, akhowat/ikhwan yang seringkali berkonsultasi, semoga Alloh menerima amalan kalian semua akhi. Saya coba tuliskan dengan kemampuan yang saya miliki ini. Semoga bermanfaat dan berguna. Dan berharap kepada Alloh agar memudahkan urusan ini. Berbicara tentang islam dan perangkat-perangkatnya (maksudnya segala isinya) memang memiliki waktu tersendiri. Tapi lebih dari itu semua di dalam islam telah diatur dengan sempurna dan sebaik-baiknya, sebab Alloh telah berfirman didalam Al Qur’an, QS. Al Maaidah : 3 “ Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu…” ayat yang mulia ini turun pada saat Rasululloh sedang melaksanakan haji wada dan ayat yang terakhir turun kepada beliau. Jadi jelas Rasulullah telah membawa din yang mulia ini telah sempurna dan menyampaikan risalahnya dengan sebaik-baiknya, tidak ada yang menyulitkan ummatnya dan tak ada yang menjadi susah karenanya. Sebab seluruh perilaku dan kebiasaan serta adab yang Rasulullah lakukan ditiru pula oleh para shahabat-shahabat beliau. Oleh karena itu seorang ulama’ besar pemilik mazhab yang terkenal, Imam Malik pernah mengatakan “ barangsiapa yang mengerjakan perbuatan bid’ah (menambah-nambahi, mengurangi, dan mengada-ada di dalam urusan agama) dan menganggapnya baik, berarti ia telah menuduh Rasulullah mengkhianati risalah kerasulannya. Karena Alloh telah berfirman ( QS. Al Maaidah : 3, diatas). Maka yang bukan merupakan perkara agama pada masa hidup beliau, maka pada hari ini juga bukan merupakan perkara agama..” ( Al-I’tishaam I / 65, Imam Asy Syathibi) Selanjutnya kita belum membicarakan tentang bid’ah, karena masih agak jauh dan ada baiknya bila didahului oleh pengantar ini. Sesungguhnya Alloh telah mengutus Rasulullah dan Rasul sebelumnya ialah merupakan sebagai pembawa berita dan peringatan dari Alloh “ Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Alloh setelah Rasul-rasul itu diutus. Alloh Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (QS. An Nisaa : 165). Selain itu sudah menjadi kewajiban kita untuk menataati perintah Alloh dan mengikuti petunjuk yang diberikan dari Rasululloh “ Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Alloh dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Alloh, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh. “ (QS. An Nisaa: 136). Sekali lagi Islam itu telah sempurna, dan bagi yang telah menempuh jalan kesempurnaan itu berarti ia telah menapaki jejak yang telah diwariskan oleh Rasululloh, Shahabatnya, dan para tabi’in, tabiut tabi’in yang turut menapaki jejak mereka “Katakanlah (Muhammad), “inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Alloh dengan yakin, Maha Suci Alloh, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (QS.Yusuf : 108) . Jadi jelas hipotesa pertama tentang fanatik terpecahkan, karena memang jalan yang diikuti oleh orang yang konsisten diatas manhaj yang haq telah sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Alloh dan Rasul-Nya jadi bukan fanatik. Sekalipun dikatakan fanatik, yaa memang benar fanatik kepada Alloh dan Rasul-Nya dengan melaksanakan apa-apa yang diperintahkan dan yang dilarangNya, dan bersegera untuk melakukan kebaikan demi mencapai ridha-Nya dan Rahmat-Nya yang seluas langit dan bumi. Lalu bukankah sah bila fanatik tersebut ditujukan kepada pemilik alam semesta dengan senantiasa mengamalkan perbuatan yang dilakukan oleh Rasul-Nya sewbagi bukti cinta kepada Alloh dan Rasul-Nya. “ Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Alloh Maha Pengampun, Maha Penyayang. “ (QS. Ali Imran : 31). Jadi jelas apa-apa yang dilakukan mereka semata-mata hanya berdasarkan dalil dan nash-nash yang qath’i dan tak terbantahkan lagi atasnya berdasarkan bimbingan para salafush shaleh (generasi terbaik, seperti yang dikatakan oleh Rasulullah). Diantara mereka tidak menilai suatu dalil dengan akal pikiran mereka saja, seperti yang terjadi pada saat ini dan sungguh sangat menyedihkan mereka pun yang tak paham ikut terpengaruh tanpa dasar ilmu. Padahal Ibnul Jauzi telah mengatakan didalam Mukaddimah Talbisul Iblis : “ perumpamaan dalil dengan akal adalah bagaikan matahari dengan mata manusia, mata yang sehat pasti akan dapat melihat matahari dengan sangat cerah. Begitupun juga dengan akal, akal yang sehat pasti akan menerima dalil dengan sempurna..” Sehingga diakhir tulisan ini, ada baiknya bila kita semua kembali belajar menuntut ilmu di majelis-majelis ilmu yang syar’i sehingga nantinya tidak terjadi lagi missed communication, missed understanding dalam diri kita ini. Dan bertanyalah bila memang tak tahu “ Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan (‘ulama) jika kamu tidak mengetahui. “ ( QS. An Nahl : 43). wallahu 'alam bi shawwab
sekilas kata ini sangat remeh dan mungkin biasa saja. Tapi dibalik itu sebenarnya memiliki nilai hukum syar’i yang sangat berat bagi yang mengatakannya, terlebih lagi bila yang mengatakannya itu telah mengenal ilmu dasar-dasar agama. Disebagian para pemuda yang memiliki nilai ghirah yang sangat tinggi, bila dikatakan kepadanya “ mas jenggotnya jangan dicukur dong, itu kan sunnah Rasulullah yang mulia…” atau juga bila dikatakan “ mas celananya itu disunnahkan diatas mata kaki…” atau ketika dikatakan tentang sunnah-sunnah yang lainnya banyak sekali diantara mereka yang dengan enteng menjawab “ jenggot ini kan hukumnya sunnah…” terlebih lagi sebagian besar orang saat ini menganalogikan sunnah hanya sebatas pada definisi dari sisi fiqh saja yaitu dikerjakan dapat pahala tidak dikerjakan ya tak apa-apa. Padahal dalam banyak hadist Rasulullah sangat menekankan untuk mengikuti sunnah beliau saw. Diantara hadist yang mengatakan demikian adalah “ Sesungguhnya saya telah meninggalkan pada kalian dua perkara yang tidak akan pernah tersesat kalian sesudahnya yaitu kitabulloh dan sunahku ” (diriwayatkan Al Hakim di dalam Mustadraknya 1/93). Jadi dengan jelas bahwa indicator seseorang dalam kehidupannya sesat atau tidak ialah selain mengikuti Kitabullah (Al Qur’an) dan juga otomatis Sunnahnya. Sebagaimana yang telah Alloh firmankan “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Alloh. Sesungguhnya Alloh amat keras hukumannya.” (QS Al Hasyr: 7). Rasululloh sangat menegaskan untuk mengembalikan kepada Al Qur’an dan Sunnah, begitu pula di dalam sabdanya “ Maka sesungguhnya barang siapa di antara kalian yang masih hidup tentu akan melihat perselisihan yang banyak, maka peganglah sunahku dan sunnah khulafaur rasyidin mahdiyin, peganglah dengannya serta gigitlah dengan gigi-gigi gerahammu. Dan tinggalkanlah oleh kalian perkara-perkara yang baru dalam agama ini karena sesungguhnya setiap yang baru dalam agama ini bid’ah dan setiap bid’ah sesat “ (dikeluarkan oleh Abu Dawud 4607 dan Tirmidzi 2676 dan berkata Tirmidzi: hadits hasan shohih) Dengan kata lain setelah mengetahui beberapa dalil yang diutarakan diatas akan pentingnya sunnah. Oleh karena itu semua perbedaan yang terjadi saat ini dalam menilai sunnah adalah tidak lain karena berbedanya pemahaman di dalam memahami sunnah tersebut. Tetapi lebih bijaknya bila kita mengambil perkataan dari shahabat yang mulia dan sudah dijamin masuk surga yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq yang mengatakan : “Tidaklah saya meninggalkan sesuatu pun yang dulu Rosululloh shalallahu ‘alaihi wassalam kerjakan kecuali aku pun mengerjakannya. Sesungguhnya saya benar-benar takut jika aku tinggalkan sesuatu dari perintahnya, aku menjadi menyimpang dari kebenaran” (Ta’dzhimus Sunnah, saya copy perkataan ini dan sebagiannya dari artikel tulisan di www.muslim.or.id ) Jadi memahami sunnah bukan hanya sekedar dikerjakan dapat pahala, tidak dikerjakan ya tak mengapa. Bukan hanya itu, ketentuan itu berlaku pada beberapa definisi sunnah menurut ‘ulama ilmu fiqh yang sering diambil oleh sebagian besar umat muslim saat ini. Tetapi alangkah bila sangat wajarnya jika kita memasukkan definisi sunnah menjadi bila dikerjakan mendapatkan pahala karena mengikuti Rasulullah dan bila tidak dikerjakan rugi. Oleh karena itu perkataan “ ah kan Cuma sunnah…” tersebut pun dapat dilihat dengan dua pandangan. Pertama, ia telah mengetahui bahwa hukum tersebut sunnah berdasarkan definisi yang bila dikerjakan dapat pahala dan bila tidak rugi. Maka dapat digolongkan ia adalah orang yang terkena dengan hadist “ barangsiapa yang membenci sunnahku bukanlah golonganku. “ ( HR. Bukhari 5063 dan Muslim 1401 ).karena bisa jadi ia telah meremehkan sunnah, dan bila meremehkan sunnah berarti ia telah menganggap sunnah sebagai sesuatu yang tak penting. Kedua, ia adalah orang awwam yang belum mengerti tentang hakekat sunnah yang lebih dalam selain dari definisi para ulama fiqh yang sering diucapkan. Hal seperti ini merupakan yang paling banyak di masyarakat saat ini. Dan biasanya diantara mereka bila tidak taqlid terhadap ustadznya atau kyainya atau murabbinya lebih mudah untuk diajarkan ilmu syar’i kepadanya. Dan merupakan suatu kewajiban bagi yang ber’ilmu untuk menjelaskannya. Dilain tempat syaikh DR. Said bin Wahf Al-Qahtani mengatakan : “ sunnah adalah benteng Alloh yang kuat, yang bila dimasuki seseorang, orang itu akan aman. Sunnah merupakan pintu Alloh terbesar, yang barangsiapa yang memasukinya akan termasuk diantara mereka yang menyambung silaturahmi dengan Nya. Ia akan tetap menegakkan pemiliknya meskipun sebelumnya terduduk karena amal perbuatan mereka. Cahayanya akan berjalan di hadapan mereka, ketika cahaya ahli bid’ah dan kemunafikan sudah sirna. Ahlusunnah adalah orang-orang yang diputihkan wajahnya, ketika wajah ahli bid’ah dihitam-legamkan.” ( terjemahan ‘Mengupas Sunnah Membedah Bid’ah’. Pustaka Darul Haq Jakarta. ) Sementara Asy Syaikh Nashr bin Abdulkarim Al-Aql menyebutkan makna sunnah berdasarkan definisi ulama’ aqidah : “ sementara sunnah menurut istilah ulama’ aqidah islam adalah petunjuk yang dijalani oleh Rasulullah dan para Shahabat beliau ; dalam ilmu, amalan, keyakinan, ucapan dan perbuatan. Itulah ajaran sunnah yang wajib diikuti dan dipuji pelakunya, serta harus dicela orang yang meninggalkannya. Oleh sebab itu dikatakan : si fulan termasuk Ahlusunnah. Artinya ia orang yang mengikuti jalan yang lurus dan terpuji.” Wallahu ‘alam bi shawwab.
| |