abu 's posts with tag: sahabat pasien
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Baru saja saya mendengar kabar ini dari pak Direktur yang menyampaikan via YM di pukul 14:56. Pasien ditulisan saya sebelumnya wafat
Innalillahi wa Inna Ilayhi Rajiiun, semoga Allah menerima amal dan kebaikannya serta memberikan ketabahan atas keluarganya
abuumarsalmanaman: assalamu 'alaikum ji abu yahya: wa'alaykumsalam warahmatullh abuumarsalmanaman: ji, pasien itu wafat abu yahya: innalillahi wa innailayhi raaji'un abuumarsalmanaman: pak Arif Abdullah ucapkan jazakallah atas bantuan BRP abu yahya: kapan pak? abuumarsalmanaman: SEKITAR PKL. 10 abuumarsalmanaman: parah ya ji sakitnya abu yahya: parah banget pak abu yahya: memang saya liat tak ada harapan hidup lagi abu yahya: istrinya juga sudah pasrah kok abu yahya: wajahnya sudah tak ada semangat lagi abu yahya: seperti bengkak2. abu yahya: izin shalat pak abu yahya: asalamu'alaykum warahmatullah abuumarsalmanaman: tafadhol
Suka duka menjadi 'pria panggilan' ketika tidak sedang ada tugas adalah hal yang penuh dengan kesenangan. Kadangkala inspirasi untuk melanjutkan penulisan skripsi terhenti di tengah mimpi, maka harapan sms atau telpon dari kantor untuk menambah penghasilan bulanan pun jadi sesuatu yang dinanti. Home Care adalah salah satu bagian dari follow up kepada pasien yang pernah menjadi klien bimbingan di tempat saya bekerja. Jika sudah selesai masa opname, pasien yang antusias dengan sajian dari kami bisa melanjutkan kembali melalui Home Care atau banyak yang bilang Home Visit. Apapun itu, pastinya kadang ada konsumsi atau sekedar amplop setelah kita meninggalkan rumah. Untuk konsumsi bisa diterima, untuk amplop serahkan saja sendiri ke lembaga.
Kemarin pagi di Kota Bekasi yang sudah beberapa hari tidak dilumuri oleh hujan, berbeda dengan kota lainnya di penjuru Jawa, telepon genggam saya berdetak dengan dua kali getaran tanda telepon masuk. Kontan ada tawaran home care di RS. Mitra Keluarga Bekasi, Mr X, pasien kritis di ruang ICU (apa ini yaa artinya, ada yang bilang Intensive Care Unit, buat saya lebh baik ILU daripada ICU).
Siang hari Yamaha Matic Nouvo 115 CC produkan 2005 berplat (hah tak penting) didaulat untuk mendampingi seremoni besuk pasien tersebut. Berhubung jarak yang lumayan dekat sekitar 15 Menit dari rumah menuju RS, maka saya berangkat setelah dzuhur dengan asumsi jam besuk di tiap RS itu khan punya rentang dari pukul 11.00-13.00, maka setelah dzuhurlah waktunya bagi saya kesana. Jebule (apa ini? tak tahulah), ternyata jam besuk di ruang ICU itu berbeda, jam besuk dimulai pukul 10.00-11.00 untuk pagi, dan sore dari 17.00-18.00. Kontan saya telat, dan mengurungkan diri menjenguk berdalih nanti sore masih bisa. Pulanglah kerumah dengan terpaksa membayar parkir yang tidak lebih dari 15 menit sebesar 2.000 rupiah. Saran saya bagi pengunjung RS. Mitra Keluarga Bekasi (Barat) jangan parkir di tempat parkir tak resmi! (mahal pwoll, service pun gak excellent).
Sore hari setelah ashar dengan sedikit membalas beberapa pesan masuk di internet rumah yang kadang ajrut-ajrutan dan terpaksa acapkali lapor ke perusahaan BUMN tempat ayah saya bekerja demi klaim ini semua, maka saya berangkat menuju RS tempat siang tadi saya gagal menjenguk. Ketika ditemui saat saya sedang chat, direktur tempat saya bekerja mewanti-wanti untuk harus datang menjenguk karena itu pasien permintaan khusus (huuaaaaa, makin gak karuan nih dengan embel-embel khusus dibelakang permintaan). Saya jadi teringat ada pasien anxiety dengan permintaan khusus yang sejak dikunjungi bilangnya mau mati terus, setelah ditilik ia punya satu ketakutan yakni takut mati karena belum bisa membaca Al Qur'an. Begitulah embel-embel khusus.
Saya masukkan motor kali ini di tempat parkir resmi sambil mengingat sebuah bait dangdut di era 90an, ("cukup sekali aku merasaaaa...kegagalan cinta...takkan terulang kedua kaliii di dalam hidupku...ooohhhh, ya nasib..ya nasib.." --kata cintanya diganti dengan parkir--). Jebule (apaan sih nih bahasa?), tidak ada pasien yang saya cari di RS. Mitra Keluarga Bekasi (barat) di deretan pasien ICU dengan bunyi-bunyi yang setelah saya tahu bernama electro radiograf bukan seperti lagunya The Upstairs "Digital Video Festival".
Kontan saya hubungi yang menghubungi saya (hahahaha...keren pola kalimatnya), maka saya berinisiatif ke satu Rumah Sakit dengan nama sama di pinggir tol sana bernama RS. Mitra Keluarga Bekasi (Timur), setelah informan juga bingung karena ternyata ada dua RS bernama sama, saya sih tidak bingung lha wong sehari-hari di Bekasi.
Saya bergegas menuju ruang ICU, ada tulisan di dekat wastafel (sebelum masuk cuci tangan dulu), kenapa mesti cuci tangan bukan cuci hati biar siap-siap tidak ilfil atau siap-siap untuk tidak suudzhan, sebab biasanya menjenguk pasien di ruang ICU atau versi RS. Fatmawaitinya terkenal dengan High Care, bisa jadi seseorang akan berkata banyak persangkaan, jika demikian maka persangkaan yang ia lakukan bisa seburuk majalah Hidayah, Hikayah, atau Hah payah. Saya tanya busus (bu suster), busus bilang pasiennya ada disana bed 3. Kontan saya segera disambut sang istri berkantung mata tebal dan berwajah sembab selaksa penuh air mata beberapa hari belakangan ini.
Sudah dikelilingi oleh dua orang yang membacakan buku Yasin didekat pasien, alatnya berbunyi tut...tut....tut....(menegangkan, layaknya kita sedang menunggu jawaban kepastian untuk meminang seseorang atau berada di acara kuis dengan pertanyaan terakhir yang membuat kita cemas hadiah tak diraih). Teman dari bapak tersebut sedang banyak mengucap istighfar. 26 hari sudah beliau dirawat dengan keluhan diagnosa gagal ginjal (bahasa latinnya ;gagale ginjaleiosis) dan struk (struke parahisis penyakitis). Dan sejak hari senin lalu disaat hari Pahlawan si bapak ini sudah anfal yang kadang ia siuman kadang kembali anfal lagi.
Saya, pegang denyut nadi si bapak di tangan kiri beliau (entah mengapa saya jadi teringat pelatihan hipnoterapi dalam menangani pasien koma, tahukah anta? ceileee, ilmu nih.. berkomunikasilah dengan pasien sedang tak sadarkan diri melalui denyut nadinya, hal ini disarankan bagi keluarga yang memiliki kedekatan hati atau ikatan hidup dengan si pasien semisal istri, anak ataupun orang tua, secara tidak langsung bisa menjadi komunikasi alternatif bagi si pasien. Lalu bacakanlah aayat-ayat ruqyah yang anda hafal dengan penuh intuisi dan sampaikan pesan anda melalui hati. Yang beruntung akan dapat menggerakkan jarinya atau bagian tubuhnya bila ia konek dengan apa yang anda sampaikan, cobalah! -pesan dari Asep Khairul Ghani, tulisannya bisa diliat di portal NLP, qadarallah saya sempat mengambil ilmunya dari beliau--).
Saya melakukan saran diatas, dan Qadaralah wa Masya'a Faal semoga ini bukan bagian dari riya fm radionya depok ataukah pembaca sekalian menganggap saya sebagai bagian dari ketik reg (spasi) manjur, atau ketik reg (spasi) weton, tapi baiknya ketik reg (spasi) ngabur. Si bapak menggerakkan tangannya setelah saya mengikuti pesan diatas dengan cara intervensi melalui standar kami sendiri (bukan standar medis, hehe). Si istri takjub dan lantas apa yang terjadi busus dipanggil, setelah si ibu bertanya tentang gerakan tangannya tersebut, busus menjawab dengan penuh keheranan, "oh iya bu, ini karena pengaruh reflek dari alat perangsang denyut nadi (atau apalah itu)", alhamdulillah setidaknya itu respon positif bukan?. Terakhir saya memberikan buku saku sahabat pasien berisi penanganan kepada pasien sedang sakit dan doa-doa serta hikmah dibalik sakit. Serta tak lupa memesankan kepada pihak keluarga. Dalam artian apakah semua pengobatan telah ditempuh termasuk herbal baik itu zamzam, habbatu sauda', ataupun zaitun. Si ibu bilang sudah semua, thayyib satu hadits yang saya ingat. "da'mal mariid bii shadaqah" (sembuhkanlah penyakitmu dengan shadaqah). Saya ajak si ibu untuk melunasi tanggungan si bapak, menilik lagi apa yang dimiliki dan berbagi kepada sesama setelahnya, serta menjadikan semua amal kebaikan diperuntukkan bagi si bapak tersebut.
Saya jadi teringat kisah Abdullah Ibnul Mubarak (siapa hayo? yang tahu Al Imam Bukhari maka akan tahu siapa nama ini, ya anda benar, salah satu guru dari Imam Bukhari, perawi hadits, tsiqah! lihat sendirilah sana di Siyar Alamin Nubala'). Sang Imam (bukan bombing!) bersama dengan seorang pemuda dengan penyakit luka di lutut serta kakinya yang tak ku njung sembuh. Maka si pemuda mengunjungi si Imam dan bertanya tentang keluhan sakitnya ini serta betapa banyak pengobatan namun tak kunjung sembuh. Maka si Imam berkata, "engkau lihatlah disana, banyak manusia kekurangan air. galilah sumur bagi mereka niscaya penyakitmu akan sembuh.", Lantas si pemuda tersebut mengambil air dari sana, dan berselang setelahnya banyak orang mengambil air dari sumur yang ia gali. Biidznillah penyakit si pemuda tersebut sembuh tanpa bekas atau penyakit turunan lainnya. (Insya Allah, cerita ini ada di diktat spiritual healing saya yang tak kunjung selesai hahaha).
Semga tulisan ini ada manfaatnya, jika tidak bermanfaat maka saya ucapkan:
Tulisan Aing, Kumaha Aing...!!!
“Pak ustadz, saya sudah dua kali masuk kesini, sedangkan adik saya sudah lima kali masuk kesini bergantian”. Itulah sebuah pernyataan dari salah seorang pasien di rumah sakit jiwa soeharto heerdjan. Di hari bimbingan saya yang disambut dengan perjalanan sangat ngantuk karena sepulang dari luar kota di pagi harinya dengan menggunakan bus dan deretan kemacetan di ruas tol Karawang Barat dari Cikampek karena ada perbaikan jalan. Perjalanan dari Bekasi yang hampir saja dihinggapi berbagai kecelakaan falillahilhamd Allah masih sayang sehingga apa yang saya alami masih dapat dirasakan keselamatannya hingga kali ini.
Pasien tersebut bernama Suyanti, sehari-hari ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dan alasan ia masuk kembali adalah karena emosi meledak-ledak dan sebuah alasan klasik kemasukan setan. Hal inilah yang menjadi sebuah dalih bagi adiknya Suyeni keluar-masuk hingga lima kali yang hanya bekerja sebagai penjaja makanan gorengan di pinggir jalan. Ini bukan pasien sakit jiwa adik-kakak pertama yang saya tangani, sebelumnya ada pasien sakit jiwa adik-kakak pula beberapa bulan lalu namun mungkin saya cari-cari nampaknya mereka berdua sudah pulang. (masih bertanya, mengapa adik-kakak bisa sakit jiwa secara bersamaan yah?)
Ketika usai wudhu, pasien tersebut menghampiri saya dan bertanya tentang, “jika kemasukan setan itu bagaimana cara mengatasinya?”. Qadarallah ada pasien yang cukup shalih secara tampak fisik. Dengan memakai sarung, kemeja, dan kopiah serta tasbih berbiji banyak ditangan pun juga datang menghampiri saya. Kontan saya serahkan kepada Mas Robi nama pasien itu untuk menjawabnya. Mas Robi pun menjawab, “bisa jadi seseorang kemasukan setan karena ia kurang dalam beribadah dan ini harus diatasi dengan lebih giat lagi dzikir dan beribadah, selain itu juga ada satu pernyataan yang keren yakni, jika seseorang biasa kemasukan setan maka itu dikarenakan tulang iga (rusuknya) tidak lengkap (?)”. Saya pun bertanya tentang tulang iga yang tak lengkap karena memang jawaban teraneh yang saya dengar kala itu. Maka Mas Robi kembali menerangkan ialah susunan iga tersebut tidak lengkap alias jarang-jarang alias tak beraturan. Maka serasa yang menjadi pasien adalah saya dan Suyanti, dengan sigap kami berdua menganggukkan kepala sambil tersenyum lega. Dengan sedikit terka, Mas Robi ini sudah boleh pulang. Walaupun ia menyanggah dengan jawaban, sudah boleh pulang tapi keluarga masih belum megizinkan. (kalau sudah seperti ini, yang pasien siapa? Apakah saya dan Suyanti ataukah Mas Robi dengan Suyanti? Pertanyaan berikutnya ialah yang dokter itu keluarganya ataukah keluarga Mas Robi? Jika dokternya sudah mengizinkan pulang, mengapa keluarganya masih menahan padahal Mas Robi sudah jinak dan tak menyerang lagi insya Allah. Lantas pertanyaan berikutnya siapa ustadz dan siapa pasien?)
 Sakit bagi sebagian orang memang sesuatu yang tidak menyenangkan. Terlebih bila muncul anggapan bahwa sakitnya itu merupakan bentuk penyiksaan dengan siraman tidak adanya rasa keadilan dari sang Tuhan. Seringkali saya menemui atau masuk kedalam ruangan dengan aura yang gelap, murung, membisu, dan terdengar suara lamat-lamat televisi disertai tayangan bergonta-ganti. Dalam setiap bimbingan, banyak para pasien justru lebih terdiam sepi, bengong, melamun, mengkhayal, berangan-angan, bahkan tak jarang mereka merasa dirundung oleh ketakutan yang membahana di dinding jiwa akan sakitnya dengan kekhawatiran akan merembet ke seluruh penjuru organ tubuh. Jika sudah demikian, tak ayal sakitnya menjadi berubah dari sekedar sakit perut bisa menjadi sakit kepala. Padahal ketakutan itu hanya nol besar belum terbukti dan tak sesuai realita melainkan sekedar katanya dan kecemasan saja. Banyak hal yang dikeluhkan atas sakitnya tersebut, perih, mual, sebah, kembung, ngilu, cekot-cekot, kliyengan, pusing tujuh rupa, ketindihan, dan berbagai aneka ragam rasa serta aroma penderitaan, bahkan seseorang yang sedang hamil sejatinya adalah kebahagiaan tetapi masuk rumah sakit dan diopname dengan tulisan sakit hamil (?). Namun yang terkadang membuat saya agak miris hati ialah ketika sesi dialog dengan mereka setelah banyak menguraikan tentang hikmah dibalik sakit. Terkadang saya bertanya, apakah ketika sakit mereka tetap mengingat Allah, apakah mereka tetap beribadah seperti biasa, apakah mereka masih shalat, dan apakah mereka masih menerima takdir Allah atas penyakitnya. Banyak jawaban yang tersedia, ada yang bilang masih shalat, shalat jika ingat, shalat ketika sehat dan tidak shalat ketika sakit, tidak shalat sama sekali ketika sakit maupun sehat, tidak tahu bagaimana tata cara shalat dan bersucinya ketika sedang sakit, shalat pas diingatkan, shalat ketika membutuhkan, shalat karena ingin pulang, tidak shalat karena tidak punya efek atas shalatnya, tidak shalat karena shalat atau tidak sama saja tetap sakit dan tak punya duit, tidak shalat karena tak tahu arah kiblat, tidak shalat karena kotor, dan sekelumit ilmu mengelak bagi mereka yang tidak shalat. Itulah realita yang tersaji didepan mata, terkadang ada rasa bingung ingin memulai darimana, tahapan apa yang tepat, namun ketika sudah terkena tepat, tak jarang diantara mereka simpati, menitikkan air mata, menjabat erat terima kasih, sekedar basa-basi tanda mengerti, atau berupaya memberikan amplop dan sedikit uang hasil kunjungan orang, (walaupun Sahabat Pasien diharamkan menerima ini) atau tak jarang yang sebelum berucap banyak sudah tertidur duluan seakan saya seang berdongeng didepan ratusan anak, atau malah pernah anggota dewan yang terhormat mengkritik uslub saya padahal sejatinya ia yang wajib saya kritik habis sampai naik bis walaupun diakhirnya ia memberikan nomor contact pada saya dan jika ada apa-apa hubungi saja dia. Seharusnya sakitnya seseorang itu adalah sebagai suatu wasilah bagi dirinya untuk mengingat kembali untuk apa ia diciptakan, jika Allah mengatakan dan tidaklah ia menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahnya saja, atau dalam ayat lain Allah bertanya "Apakah mereka mengira diciptakan hanya untuk bermain-main saja, dan mereka tidak akan dikembalikan" atau dalam beberapa ayat bahwasanya eksistensi kehidupan adalah pengabdian kepada Yang Maha Menghidupkan. Bagaimana mungkin seseorang bisa berpaling dari Allah disaat mereka seharusnya berada pada titik-titik Allah mengabulkan doa dan harapan mereka. Disaat seandainya mereka paham atas penyakitnya niscaya akan terampuni dan terhapuskan dosa serta kesalahan mereka oleh Sang Ghafiru Dzambi wa Qaabiluu Tawbii. Jika demikian bagaimana mungkin seseorang bisa berkata ketika sakit ia tidak shalat dan ketika sedang sehat ia shalat, bagaimana pula jika Allah melakukan permainan hitung-hitungan seperti dirinya, jika ia sehat dan shalat maka diberikan nafas sepanjang hari dan jika sedang sakit karena tidak shalat lantas Allah memberikan ia waktu bernafas setengah hari dengan alokasi setengah hari laginya ia mencari nafas sendiri. Subhanallah Walhamdulillah ternyata Allah tidak pernah perhitungan sebagaimana hambanya tersebut perhitungan, sekalipun ia tidak shalat ia masih bisa merasakan kenikmatan. Bisakah seseorang yang seharusnya ia lebih dekat kepada Alah justru malah meninggalkan Allah, justru berpaling dan tak jarang secara tidak sadar menggugat takdir Alah. Mengapa ia bisa meninggalkan kewajiban sedangkan Allah masih senantiasa memberikan kemudahan dirinya untuk bernafas, masih diberikan penglihatan terang di pagi itu, atau dimudahkan merasakan sesuap makanan dari mulai mengangkat sendok hingga ia mencernanya menjadi feses. Benarlah apa yang dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallohu Anha, "Tidaklah seorang hamba minum air yang jernih kemudian masuk ke tubuh tanpa kesulitan dan setelah itu keluar kotoran penyakitnya, kecuali wajib baginya bersyukur." (Asy Syukr no 192, Ibnu Abi Dunya). Renungkanlah wahai saudaraku, mengapa kalian rela meninggalkan Allah disaat sakit sedangkan Allah tidak meninggalkan kalian, sudahkah kita membalas kebakan yang Allah berikan sebagaimana Allah katakan, wa ahsin kamaa ahsanalloha ilayk (dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik untukmu). Terkadang jika sudah sampai taraf akut apa yang mereka rasakan, maka senjatanya ialah; bapak-ibu boleh tidak beribadah kepada Allah, boleh juga kok melupakan Allah, mencela Allah, berpaling dari Allah, bahkan mau saya tunjukkan dimana tempatnya? Diantara mereka tersenyum maka saat itu juga enaknya dihantam dengan statement, dua tempat untuk merealisasikan itu, pertama ialah silahkan bapak-ibu tinggal ditempat yang tidak dimiliki oleh Allah dan kedua silahkan bapak-ibu tinggal ditempat yang tidak diawasi oleh Allah. Jika sudah tahu tempatnya segera kabari saya. Mau tinggal di Matahari juga punya Allah, tinggal di Bulan juga punya Allah, Venus, Mars, Jupiter, Segitiga Bermuda, Kota mati yang 10 itu, atau Dibawah laut paling dasar, Black Hole, Antartika, Lubang Semut, dll silahkan cari. Kesemuanya juga milik Allah dan ada pengawasan Allah disana. Jadi tidak ada tawar menawar lagi selain tawaran terakhir jika bapak-ibu ingin yaitu bukan tawaran tempat melainkan tawaran keadaan, seseorang boleh melepaskan ibadahnya terutama shalat jika ibu-bapak ingin dalam keadaan, gila, pingsan atau tak sadarkan diri, dan terakhir mati. Jadi siapa yang tak adil, Khaliq ataukah makhluk? Padahal Allah telah memberikan kenikmatan lain atasnya namun pengingkaran itu ada, benarlah yang Allah katakan "innal insana khuliqaa halu'a, idza massahu syarru jazu'a wa idza massahu khayru manu'a". Berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Itulah sedikit yang bisa dibagi hari ini, jika memang kita tidak punya tempat dan tidak ingin keadaan seperti itu maka kita tetap mendapatkan beban untuk senantiasa mengingat Allah, menyembah Allah, dan terus dekat dengan Allah. Ini Bumi Allah, milik Allah maka wajib bagi kita untuk terus mengabdi kepadanya. Jika seorang kontraktor (pengontrak rumah) saja akan ditagih terus dan bisa jadi diusir jika tidak memenuhi kewajibannya bagi kepada pemilik lantas bagaimana dengan kita. Kesadaran diri adalah hal yang penting disaat banyak nikmat gratisan yang kita miliki. Nafas yang bebas, pandangan yang luas, pendengaran yang tenang, lisan yang punya wewenang, dan semua itu diatur dengan sekat batas. Batasan dan aturan yang telah Allah turunkan kepada setiap hambanya. ~sedikit bocoran atas konsep spiritual healing kami (saya dan istri *.pinjem ikhwan yang suka bawa-bawa istrinya disetiap tulisan kemana-mana*..hahaha langsung heboh!! belum ada hipnoterapi, psikoterapi, dan spiritual emotional atau quantum-quantum apalah lho yaa yang saya pikir ribet. cukup praktis dan punya efek, selesai ngombe, madang, mbayar, bubar blas teko neng omah)~
Pekan lalu adalah pekan yang padat untuk garis jadwal saya ke Rumah Sakit, dengan mengejar target jadwal yang padat berisi 7x bimbingan (dan alhamdulillah sekarang beres semua, tinggal senin besok RSJ). Dari mulai Home Care, Liqo'at, sampe bimbingan reguler benar-benar menyita waktu walaupun sekedar mencorat-coret catatan kaki revisi skripsi.
Ada beberapa hal yang unik ketika saya mengisi RS.Pasar Rebo, salah satu bimbingan yang kami berikan kepada para pasien adalah kaifiyah ath thuhur alal mariid. Pasien saya adalah salah satu bapak alumni SD namun berjiwa pedagang sejati. Ia tinggal di Kp. Rambutan tak jauh dari lokasi RS tersebut. Ketika saya menjelaskan soal bagaimana tata cara shalat ketika sakit hingga tuntas yang sebelumnya sang bapak cuek bebek menjadi agak bisa mengamati tata cara yang saya arahkan, dari mulai tayammum hingga strategi jama' qashar. Diakhir saya menyampaikan si bapak bertanya, "apakah ini ahlusunnah?" pertanyaan indah bukan kawan? "apakah ini ahlusunnah". Sontak saya terperangah dan menjawab dengan yakin, "Ya, silahkan bapak lihat di kitab-kitab induk soal BAB Thaharah dan Fiqh". Si bapak pun berkata lagi, "bukan mas, masalahnya saya khawatir ini bukan ahlusunnah, sebab saya suka mendengar sebuah radio yang mengaku ahlusunnah namun kata kakak saya (kakak si bapak), radio tersebut bukan radio ahlusunnah karena melarang upacara kematian dari yasin hingga tahlilan." Dalam hati saya, ada topik nih yang membuat bapak ini membuka mulutnya ketimbang sibuk mikirin penyakitnya yang terkena paru-paru setengah matang (entah itu basah atau kering). Saya jawab, "Radio Rodja maksud bapak?" si bapak membenarkan. Lantas si bapak berujar, "Saya mendengar itu kemarin hampir setiap hari, kajian ustadznya bagus dan ketika kakak saya bilang itu bukan ahlusunnah maka saya tinggalkan dari mendengarnya". Saya berbicara lagi menyanggah pernyataannya sebab saya memang mendengarkan radio tersebut dan banyak memberikan pengaruh bagi keluarga kami yang pasti tiap pagi menyalakannya sebelum saya, bapak, adik, dan ibu melanjutkan aktivitas. Lalu saya ajak si bapak untuk berbicara banyak tentang hal tersebut, akan tetapi sang bapak sudah ngos-ngosan menghela nafasnya dan meminta lain waktu saja. Maka saya sarankan untuk terus mendengar radio itu dan semoga lain waktu kita (saya dan bapak) bisa bahas banyak tentang hal demikian.
Kisah lainnya, saya datang ke RSJ agak telat ketika itu. Karena harus mengambil hadiah untuk saudara-saudara kita disana. Seperti biasa senin adalah jadwal tetap disana. Saya sedikit mengulas sesuai tema soal Al Qur'an dan kisah didalamnya beserta kisah seorang sahabat bernama Ibnu Mas'ud yang ketika itu pernah berdialog dengan Ummu Ya'kub soal Tatto. Ibnu Mas'ud mengatakan, "Allah mengharamkan seseorang mentato dan minta di tato". Maka Ummu Ya'kub berkata, "Aku sudah membolak-balik Al Qur'an minnal Fatihah Ilaa An Nass tidak ditemukan Allah mengaharmkannya". Kecerdasan Ibnu Mas'ud mengantarkan pada keterperangahan Ummu Ya'kub dengan perkataan, "Bukankan kau tahu bahwa Allah mengatakan dalam Al Hasyr, apa-apa yang dilarang oleh rasulmu maka tinggalkan dan apa-apa yang dilarang maka tinggalkanlah (wa maa ataakumu rosul fakhudzhuhu, wa maa nahakum anhu fantahuu)". Saya terbiasa mengulang kembali agar saudara-saudara di RSJ bisa mengambil ibroh dari kisah demikian. Setelah itu salah seorang pasien bernama Prabowo (saya pikir ia bukan dari GERINDRA) menjawab dengan lugas hikmah dari kisah diatas tiga poin sebagaimana yang saya ulas sebelumnya. Satu hal yang penting ialah saya tidak mengatakan soal bid'ah namun pak Prabowo berkata tentang kalimatnya " Al Qur'an harus didampingi dengan Hadits dan jangan berbuat Bid'ah". Brilian seorang pasien Rumah Sakit Jiwa, saya ulangi Rumah Sakit Jiwa mengatakan "jangan berbuat bid'ah"!
Dalam kehidupan mungkin banyak hal yang bisa menjadi pelajaran tertentu bagi seseorang yang mengalaminya, rentang waktu dan ulasan perjumpaan dengan pasien memberikan saya banyak pelajaran tersendiri seperti kisah diatas. Seringkali kita mendapatkan orang-orang hanif yang tanpa disangka-sangka mengetuk kesadaran berfikir dan menggugahnya dengan cermat secara lugas. Soal seseorang yang sebelumnya sangat gemar mendengarkan kajian dan interest terpaksa harus meninggalkannya karena memang harus bergulat dengan kenyataan berhadapan dengan pelarangan orang yang dihormati. Namun ketika seseorang disorder mengatakan soal kebenaran terpaksa harus menguap bagai debu. Ini bukan soal ketidak-adilan dalam menyikapi kehidupan, mengapa yang normal cenderung mengikuti perkataan tanpa dasar, sedangkan si disorder berkata soal kebenaran namun menguap terbuang. Ternyata belajar itu tidak mesti dari orang normal, berapa banyak mereka yang sebelumnya normal telah menjadikan orang-orang disekitarnya mengidap sindrom abnormal atas pengaruhnya. Pada hari ini dan sebelumnya, ternyata kita bisa mengambil pelajaran dari mereka yang abnormal agar dapat menormalkan kembali pemikiran.
Saya jadi teringat ketika bimbingan di Cengkareng kemarin, seorang bapak yang terkena usus buntu pasca operasi terpaksa harus menangis dihadapan keluarganya setelah saya berkata, "Allah itu memiliki cara tersendiri untuk menaikkan derajat hambanya. Bisa jadi bapak kemarin berharap derajat bapak di sisi Allah ditinggikan namun semua usaha tersebut sirna dan ternyata Allah meninggikan derajat bapak dengan kesabaran ujian atas sakit yang bapak terima". Selesai saya berkata Wallahu 'alam bi Shawwab si bapak menyalami erat tangan saya. Sambil berujar tanya "antum tinggal dimana?". Saya jawab, "Bekasi". Si Bapak berkata, "saya dari PKS (salah satu parpol)". Saya jawab "tidak masalah, pasien saya ada yang jamaah tabligh, hizbut tahrir, salafiy." Si bapak tersenyum bersama sang istri lantas saya tambah dengan statement "Masih sama-sama shalat 5 waktu khan?". Sembari saya pergi setelah salam.
*di tengah kegundahan atas dosen pembimbing saya yang menyuruh revisi agar bahasa skripsi jangan hiperbolis, justifikasi, dan bergaya artikel. Ini karya ilmiah!*
Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan Grogol, Senin 11 Rajab 1429 H / 14 Juli 2008. matahari pagi disaat pukul 10.00 WIB menyapa dengan hangatnya. Hari itu merupakan kali kedua dalam jadwal bimbingan rohani pasien saya di RSJ. Setelah pekan lalu sempat mengisi dan tidak terlalu penuh kejutan melainkan penuh dengan deg-degan. Pagi ini saya berangkat sendiri yang biasanya kami bertiga menaiki taksi dari kantor. Para akhwat lebih dahulu berangkat untuk membeli keperluan bagi para pasien. Kami menggunakan sistem halaqoh selama 3 bulan, sebab masih dalam tahap observasi situasi dan kondisi sambil memikirkan konsep kedepannya bimbingan di RSJ tersebut. Pasien RSJ kami perlakukan beda dengan pasien normal di RS reguler lain. Tiap kali akan bimbingan disini, kami pasti membeli perlengkapan dan keperluan konsumsi bagi para pasien yang mengikuti bimbingan (para pasien bilang pengajian). Dalam istilah psikologi dikenal dengan nama reward, serta biasanya akan ada hadiah buku saku pasien untuk pasien yang aktif mengikuti pengajian.
mau tahu kelanjutan ceritanya? silahkan deh jangan ragu-ragu buat mengklik DISINI
Hari yang masih cukup cerah disiang ini (Selasa 3 Rabiul Awal 1429 H / 11 Maret 2008), waktu masih menunjukkan pukul 13.30 setelah bertolak dari RS. Cengkareng, ada satu agenda yang diamanahkan untuk berduet dengan ustadz Abdul Muhit yaitu ke RSCM. Laju kendaraan beliau yang sangat kencang (metafora dari sungguh pelan) membuat saia garing dalam perjalanan (kalo tau begini mah mending tadi sembari dengerin atawa muraja'ah pake MP3 gitu biar gak garing). Saia diajak beliau melewati jalan yang sejak 20 tahun tinggal di Jakarta mungkin saia baru pertamakali melewatinya. Beliau mengarahkan jalan ke arah RS. Tarakan setelah melintasi depan Univ. Tarumanegara. Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang saia kenal setelah mungkin sekitar 45 menit melajukan Nouvo 115 CC berplat B 6954 KGB (bukan Khawarij Gaya Baru lho!!). tak ada yang berubah, terakhir kali saia kesini ialah ketika mengantarkan pembayaran bersama keluarga untuk membeli Kijang Kapsul SSX 1998 tahun lalu. Masih saja RS yang menjadi rujukan Nasional ini tersenyum dingin kepada banyak orang, dibalik patung pak Cipto yang tampak bete dan diantara kebingungan dimanakah tempat parkir motor kami berdua dilematis. RSCM sebuah RS yang angker mungkin sebab disini semua penyakit ada dan disini pula semua mayat tanpa nama danidentitas dititipkan. Data yang dipegang sungguh sangat menakjubkan, hanya bertuliskan : ‘Mela, ibunya Nurhayatin. kena Lumpuh, Lt.2 Ruang Anak’ Informasi yang tak signifikan setelah kami sampai disana. Kita menaiki ruang anak ke lantai 2. berlalu-lalanglah para calon dokter yang sedang co-ass (hei..kamu yang berjas putih kita satu angkatan bukan? Ramah dikitlah padaku!). semua terlihat sibuk termasuk petugas administrasi berseragam sipil negeri. Ada beberapa yang berasal dari Depkes dan banyak ragam lainnya. Saia mencoba bertanya tentang data tersebut kepada petugas pengurus administrasi lantai tersebut. Ia hanya menandaskan bahwa datanya kurang valid dan membuat bingung, sebab ada dua kelas. Berada di kelas dua ataukah kelas tiga. Saia menghubungi kantor agar berharap dapat informasi lebih. Hingga akhirnya mbak Rina menelpon dan menjelaskan sedikit deskripsi yang bagi kami “tetep aja mbak, gak signifikan euy” Kami akhirnya berjalan ke kelas tiga, agar semoga ada jawaban disana. Bertanya sedikit kepada kepala ruangan hingga akhirnya si suster kepala ruangan tersebut memberikan petunjuk untuk berjalan ke kasur ujung. Tak ada yang bernama Mela urainya, yang ada hanya Nurmela, still yakinlah kami untuk mengiyakan apa yang dikatakan bu suster itu. ******* Mata saia tertumbuk pada banyak panorama yang sangat-amat menyayat hati, usia yang masih anak terbaring di kasur dengan beragam penyakit, itu baru bagian dari perjalanan menuju pasien bernama Nurmela tersebut, ada bibir sumbing, busung lapar mungkin, kurus, kurang gizi, dan sekelumit problematika anak negeri. Nurmela, ialah sasaran kami saat ini telah berada dihadapan kami. Duh kaki saia tak bisa menahan lemas ketika melihatnya. Namun saia lebih lemas lagi melihat pasien disebelahnya yang bernama Yoga. Saia menyerahkan urusan ini kepada ustadz Muhit (terserah mau diapakan, eh beliau malah membacakan Yassin..hehe). Selama beliau membacakan Yasiin maka saia ke Yoga, anak berusia 8 tahun yang sudah setahun tak bersekolah. Ia terkena penyakit yang disebutnya sebagai viirus Asites (kalo salah dibenarkan yaa..) ketika saia temui ia berada seorang diri tanpa ditemani, namun akhirnya ia berkata ibunya sedang keluar dan si bapak menebus obat. Virus Asites yang telah membuat tubuhnya membesar (maaf jika saia istilahkan seperti berudu atau kecebong) tangannya pun membesar juga satu lagi –maaf- penisnya menciut dan biji pelirnya pun membesar seperti buah sukun. Ibunya mengatakan bahwa ada tulang sum-sumnya yang bocor sehingga kelenjar getah beningnya tak sempurna dalam mengalir. Hal ini berdampak dari kebocoran tersebut menyebabkan cairan dalam tubuhnya bekerja tidak maksimal dan keluar dari jalur. Sehingga masuk ke organ-organ tubuh lainnya. Ini lebih baik dari sebelumnya sebab baru saja cairan yang berlebih ditubuhnya disedot kembali oleh mesin. Si bapak yang bekerja sebagai buruh serabutan kadang mengamplas atau menyewa motor untuk diojekkan. Ia hanya mendapatkan bantuan dari RCTI Peduli. Yang ia sendiri juga bingung harus meminta bantuan kemana lagi jika masa berlaku dari RCTI telah habis. Cerita yang mengesankan ketika ada hamba Allah yang merekomendasikan Yoga dan keluarga, orang tersebut tak ingin namanya diketahui bahwa ia yang merekomendasikan (ialah orang besar sejati bagi saia, ketika manfaatnya mengalahkan namanya). Yoga memiliki seorang kakak yang seharusnya bersekolah di SLB namun terbentur biaya sehingga tak dapat mengecap bangku sekolah. Keluarga ini penuh dengan ujian dan cobaan sebab kakak Yoga adalah seorang Down Syndrome atau keterbelakangan mental. Saia mencukupkan diri tuk sedikit interaksi dengan keluarga ini sebab ustadz Muhit telah menyelesaikan pembacaan Yassin. Saia kembali ke Nurmela yang si ibu menguraikan pada awalnya ia normal dan sempat bersekolah di kelas 2 Tsanawiyah sekitar Jampang-Parung. Sudah 6 bulan ia mengalami cobaan ini. Dan perhatikanlah kawan terkadang cobaan datang ketika memang kita tidak menduganya. Disini butuh penyikapan yang serius dan totalitas kesabaran yang jangan sampai habis. Ibunya membesarkan seorang diri sebab suami telah wafat. Mela sapaan akrabnya kini anak ketiga dari empat bersaudara. Ibunya hanyalah seorang pengrajin keset, jika ia dirawat maka yang bertumpu akan pekerjaan berada ditangan kakak petamanya. Sebab sang ibu tak dapat bekerja kembali. Hasil scanning mengatakan bahwa di otaknya terdapat cairan yang ibunya sendiri tidak mengetahui darimana asal muasalnya cairan tersebut bisa berada di otak. Mela kini menjadi sangat kurus layaknya tulang yang hanya dibalut dengan kulit. Sebuah cobaan yang seharusnya kita lebih mensyukuri akan nikmat yang telah diberikan oleh Allah.. masih ada orang yang lebih diuji dibanding kita dan sejauh manakah kesabaran kita saat ini diuji. Awalnya saia ingin menampilkan foto kedua orang tersebut namun kamera saia lupa untuk dibawa. Saia tak dapat menahan kesedihan dari cerita ini untuk lebih berpanjang penjelasan, sebab keadaan yang memang harus senantiasa menuntut saia agar sabar dan lagi-lagi mengatakan bahwa nikmat sehat itu mahal dan akan lebih mahal bila kita mensyukurinya sekalipun itu hanya hembusan nafas hari ini dan selamatnya kita ketika menuju kantor di pagi hari tadi. Benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wasallam, “Lihatlah orang-orang yang lebih rendah dari kalian, karena hal demikian akan lebih mendorong kepada mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan..” –aw kamaa qolaaa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam- (HR. Tirmidzi). Bagi siapapun anda yang membaca tulisan ini, dan ingin memberikan sedikit kontribusi bagi saudara muslim lainnya.. tak perlu melalui lembaga apapun silahkan datang saja ke RSCM di lantai 2 Gedung Rawat Anak kelas 3. mungkin sedikit harta dan doa anda bermanfaat bagi mereka juga bagi akhir hidup anda, semoga! Rizki Ibnu Heru (Sahabat Pasien, Bimbingan Rohani Pasien, Lembaga Pelayan Masyarakat-Dompet Dhuafa Republika) www.berteriakdalamhati.blogspot.com
| |