Pendahuluan
Kawasan perkotaan telah menjadi mimpi tersendiri bagi masyarakat desa. Hampir setiap tahunnya masyarakat desa melakukan urbanisasi ke wilayah perkotaan. Mereka mengisi setiap sendi-sendi kekosongan area perkotaan, terkadang mereka tak peduli dengan apa yang dilakukannya nanti di kota. Dalam bayangannya mereka datang dan mereka berjuang dengan apapun caranya. Realita sosial di perkotaan yang sebagian besar para urbanit belum mengetahuinya menjadi sebuah fenomena tersendiri bagi urbanit yang memiliki sejuta impian, tumpuan, dan harapan besar di perkotaan. Hampir sebagian besar para urbanit di Indonesia menggantungkan tujuannya untuk hijrah ke kota besar baik itu ibukota provinsi maupun di ibukota negara. Sebagai contoh Jakarta, Jakarta telah menjadi realita tersendiri dan sebuah kenyataan yang penuh dengan kesibukan disana-sini, sehingga sebagian dari para kaum urbanit datang dan mencoba segala hal di Jakarta. Terkadang sebagian diantara mereka bila cerdas akan berhasil, namun bila tidak akan tergilas dengan kejamnya ibukota. Sebagaimana yang sering dikatakan ‘ Memang ibukota lebih kejam dibandingkan dengan ibu tiri ‘
Dalam makalah kali ini, kami akan membahas tentang realita kehidupan sosial dan ekonomi khususnya ummat Islam dikawasan perkotaan. Dari mulai kemiskinan yang merajalela hingga tak ada batasnya, masalah-masalah kesejahteraan sosial yang bias akan arah dan tujuannya, masalah-masalah sosial yang tak pernah kunjung henti dan selalu disiarkan di berita televisi, dan segudang problem masyarakat kota lainnya. Tentunya penyusunan ini terlaksana atas izin Alloh subhanahu wa ta’ala, dan kami memohon maaf bila apa yang kami sajikan sangat kurang berkenan dan jauh dari harapan sekaligus bayangan. Karena kami (penyusun makalah) memahami bahwa teman-teman bukanlah para urbanit yang dituduhkan.
Definisi kota
Kota, menurut definisi universal, adalah sebuah area urban yang berbeda dari desa ataupun kampung berdasarkan ukurannya, kepadatan penduduk, kepentingan, atau status hukum.
Dalam konteks administrasi pemerintahan di Indonesia, kota adalah pembagian wilayah administratif di Indonesia setelah provinsi, yang dipimpin oleh seorang walikota. Selain kota, pembagian wilayah administratif setelah provinsi adalah kabupaten. Secara umum, baik kabupaten dan kota memiliki wewenang yang sama. Kabupaten bukanlah bawahan dari provinsi, karena itu bupati atau walikota tidak bertanggung jawab kepada gubernur. Kabupaten maupun kota merupakan daerah otonom yang diberi wewenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahannya sendiri.
Dahulu di Indonesia istilah kota dikenal dengan Daerah Tingkat II Kotamadya. Sejak diberlakukannya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah, istilah Daerah Tingkat II Kotamadya pun diganti dengan kota saja. Istilah "Kota" di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam disebut juga dengan "Banda"
Ada pula yang mendefinisikan kota sebagai pusat pertumbuhan, ekonomi, dan kebudayaan; kota juga merupakan suatu daerah yang dipenuhi dengan kesibukan dan berbagai aktifitas lainnya.
Beberapa permasalahan di perkotaan
Sebagaimana yang dipaparkan diawal bagian pendahuluan bahwa kota merupakan mimpi tersendiri bagi masyarakat desa, masyarakat desa memiliki tumpuan harapan yang besar bahwa mereka beranggapan di kota terdapat jaminan kepastian peningkatan taraf hidup yang lebih baik. Namun sebagian mereka tak memahami apa nanti yang akan terjadi bila mereka datang ke kota tanpa berbekal skill yang memadai, ongkos yang pas-pasan, modal yang minimal, dan wawasan kecerdasan yang jauh dari harapan. Walhasil tak jarang mereka tetap menjadi pengangguran, menambah jumlah populasi masyarakat miskin di kota, menambah tingkat kerawanan keamanan dan kriminalitas di kota, hingga tak jarang permainan haram seperti menjadi pelacur terkadang dilakonkan. Secara garis besar permasalahan tersebut diuraikan dibawah ini. Bukan berarti tidak ada permasalahan lain yang timbul diperkotaan, namun kami berpendapat bahwa ini adalah permasalahan yang sangat dan paling inti dirasakan dan memiliki cabang-cabang yang lainnya. Adapun bila ada permasalahan lain dapat dilakukan diskusi yang panjang dan masukkan-masukkan yang lebih bermanfaat. Permasalahan-permaslahan itu ialah antara lain :
a. urbanisasi
Permasalahan pertama yang dihadapi oleh penduduk kota dan sangat berimplikasi terhadap kegiatan perekonomian dan banyak menuai konflik di perkotaan ialah urbanisasi. Urbanisasi dalam bingkai ilmu sosiologi dikaitkan dengan sikap hidup penduduk dalam lingkungan pedesaan yang mendapat pengaruh dari kehidupan kota. Dalam hal ini, apakah mereka dapat bertahan pada cara hidup desa ataukah mereka mengikuti arus cara hidup orang kota yang belum dikenalnya secara mendalam. Dari segi sosiologi, urbanisasi ini dapat menimbulkan lapisan sosial baru yang menjadi beban kota, karena kebanyakan dari mereka yang tidak berhasil hidup layak dikota akan menjadi ‘penggelandang’ dan membentuk daerah slum atau daerah hunian liar. Urbanisasi inipun dapat dipandang sebagai suatu proses yang mencakup pelbagai aspek yaitu aspek material, teknologi, spiritual, kesehatan, lingkungan dan kelembagaan sehingga urbanisasi ini pun menjadi masalah yang bersifat multidimensi.
Menurut Sarjono Herry Warsono ialah Substansi tentang urbanisasi yaitu proses modernisasi wilayah desa menjadi kota sebagai dampak dari tingkat keurbanan (kekotaan) dalam suatu wilayah (region) atau negara. Konsekuensinya adalah terjadi perpindahan penduduk (dengan aktifitas ekonominya) secara individu atau kelompok yang berasal dari desa menuju kota atau daerah hinterland lainnya. Hal ini perlu dibedakan dengan pengertian tingkat pertumbuhan kota (urban growth) yang diartikan sebagai laju (rate) kenaikan penduduk kota, baik skala mandiri maupun kebersamaan secara nasional.
Menurut Prijono Tjiptoherianto, Dalam pengertian yang sesungguhnya, urbanisasi berarti persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Sedangkan mereka yang awam dengan ilmu kependudukan seringkali mendefinisikan urbanisasi sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota. Padahal perpindahan penduduk dari desa ke kota hanya salah satu penyebab proses urbanisasi, di samping penyebab-penyebab lain seperti pertumbuhan alamiah penduduk perkotaan, perluasan wilayah, maupun perubahan status wilayah dari daerah pedesaan menjadi daerah perkotaan, dan semacamnya itu.
b. kemiskinan
Masalah berikutnya yang menghinggapi terhadap situasi sosial dan ekonomi di perkotaan ialah kemiskinan. Kemiskinan dapat didefinisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Standar kehidupan yang rendah ini secara langsung tampak pengaruhnya terhadap tingkat keadaan kesehatan, kehidupan moral, dan rasa harga diri dari mereka yang tergolong sebagai orang miskin.
Kemiskinan telah menjadi momok tersendiri bagi berbagai negara dunia ketiga, kemiskinan juga telah menjadi musuh bagi negara-negara berkembang dan berusaha untuk memberantasnya. Kemiskinan sendiri telah terbagi menjadi berbagai dimensi yang terkotak-kotakkan dalam berbagai aspek pula. Latar belakang kemiskinan sendiri telah dibentuk menjadi berbagai segi, baik segi mikro, mezzo, dan makro penyebab kemiskinan. Kemiskinan pun dapat bersifat struktural dan kultural.
Namun anehnya hingga saat ini belum ada batasan tentang sejauhmana batasan kemiskinan tersebut. Ada yang menggariskan bahwa kemiskinan itu dalam sepekan tidak berganti lauk-pauk, ada pula yang berpendapat bahwa kemiskinan itu bila alasnya dalam rumah masih berupa tanah, adapula yuang berpendapat dan merumuskan bahwa kemiskinan itu upah perharinya kurang dari $2. Apapun batasan itu namun solusi yang ada bagi masalah ini belum terselesaikan secara tuntas. Setiap program pemerintah yang ada dan dilaksanakan mestilah selalu tidak menjadikan hal itu sebagai jalan keluar yang tepat dan layak bagi rakyatnya. Baik itu di perkotaan sekalipun terlebih di pedesaan.
c. kriminalitas
Kriminalitas juga menjadi masalah tersendiri diperkotaan, latar belakang budaya yang berbeda menciptakan berbagai iklim konflik vertikal yang berkepanjangan. Pihak kota sebagai warga tuan rumah tidak tinggal diam dalam mengantisipasi warga pendatang. Hingga tak jarang terjadi konflik yang menegang, sebagai contoh konflik Tanah Abang yang terjadi beberapa tahun silam. Antara pihak Hercules (pendatang) dengan Betawi. Belum lagi permasalahan pencurian, perampokan dan segala hal yang bersifat kriminalitas menjadi permasalahan sosial sendiri di perkotaan, khususnya kota-kota besar di Indonesia. Bahkan tingkat kriminalitas diperkotaan yang tinggi tak jarang diakibatkan dengan permasalahan yang sepele dan remeh tak sekedar kesenjangan sosial. Melainkan rebutan uang Rp.1000 pun bisa jadi masalah tersendiri di perkotaan. Masalah kriminalitas ini sering terpampang jelas diberbagai media saat ini. Bahkan saat ini tawuran pelajar pun sudah menjadi ‘barang tontonan’ yang sangat biasa.
Penutup
Demikianlah makalah ini yang dapat kami sajikan, kami berharap makalah ini dapat berkembang dengan berjalannya diskusi yang akan dijalankan oleh teman-teman. Makalah ini memang tidak menyajikan bonot ilmiah yang sangat banyak, namun bagi penyusun cukuplah makalah ini ada sebagai stimulus tersendiri dalam mendukung jalannya diskusi nanti agar lebih hidup. Masih terlalu banyak juga problema yang belum dipaparkan terlebih solusi-solusi yang belum diterangkan. Namun kami yakin dan berharap sebagai penyusun teman-teman dapat ber-ijtihad bersama untuk menentukan solusi yang tepat dan pas bagi permasalahan sosial-ekonomi ummat di perkotaan. Kurang lebihnya kami mohon maaf dan kami berharap ‘teman-teman datang dalam keadaan kosong, dan keluar dalam keadaan kosong’. Sehingga teman-teman nantinya dapat mengeluarkan aspirasinya dan bersuara lantang untuk sekedar melakuan onani pemikiran.
Daftar Pustaka
Hauser, Phillip M, dkk, Penduduk Dan Masa Depan Perkotaan; Studi Kasus di Beberapa Daerah Perkotaan, Jakarta: Yayasan Obor, 1985
Bintarto, Prof. Drs. R, Urbanisasi dan Permasalahannya, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986
Suparlan, Parsudi (penyunting), Kemiskinan di Perkotaan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1995
http://id.wikipedia.org/wiki/Kota
http://www.thefreedictionary.com/city
Prijono Tjiptoherianto (Guru Besar Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia), Urbanisasi dan Perkembangan Perkotaan di Indonesia, http://www.geocities.com/nuds2/18.html (akses tanggal 19 Juni 2007, 21:58 pm)