abu 's posts with tag: tulisan aja..
What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
Menikah adalah salah satu pilihan dan sebuah kunci sarana menuju kebahagiaan, dapat dengan mudah sebuah perubahan disaksikan didepan mata kamu pastinya perbedaan antara orang yang telah menikah dengan yang belum menikah. Dalam sebuah raut muka dan wajah penuh garis tawa lebih banyak menyemburatkan asa dibandingkan gejolak lara maupun derita. Jangankan air mukanya, seseorang yang telah menikah tentunya bisa kamu cirikan adanya perubahan fisik dalam jarak sebelum dan sesudah menikah. Orang sering bilang “susunya cocok”. Menikah adalah sunnah para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah azza wa jalla, keseluruhan dari pembawa berita berupa kabar gembira serta pemberi peringatan itu tidaklah melajang. Bahkan diantaranya ada yang poligami atau menikah dengan banyak istri. Karena memang hukum asal nikah itu ialah poligami bukanlah monogami. Namun terkadang tuduhan tersebut pastinya bisa kita rasakan dari sorotan musuh-musuh Islam, padahal tanpa disadari raja-raja romawi, persia, dan yunani adalah pelaku pernikahan bukan tunggal. mending langsung aja terusin bacanya di SINI
 Sakit bagi sebagian orang memang sesuatu yang tidak menyenangkan. Terlebih bila muncul anggapan bahwa sakitnya itu merupakan bentuk penyiksaan dengan siraman tidak adanya rasa keadilan dari sang Tuhan. Seringkali saya menemui atau masuk kedalam ruangan dengan aura yang gelap, murung, membisu, dan terdengar suara lamat-lamat televisi disertai tayangan bergonta-ganti. Dalam setiap bimbingan, banyak para pasien justru lebih terdiam sepi, bengong, melamun, mengkhayal, berangan-angan, bahkan tak jarang mereka merasa dirundung oleh ketakutan yang membahana di dinding jiwa akan sakitnya dengan kekhawatiran akan merembet ke seluruh penjuru organ tubuh. Jika sudah demikian, tak ayal sakitnya menjadi berubah dari sekedar sakit perut bisa menjadi sakit kepala. Padahal ketakutan itu hanya nol besar belum terbukti dan tak sesuai realita melainkan sekedar katanya dan kecemasan saja. Banyak hal yang dikeluhkan atas sakitnya tersebut, perih, mual, sebah, kembung, ngilu, cekot-cekot, kliyengan, pusing tujuh rupa, ketindihan, dan berbagai aneka ragam rasa serta aroma penderitaan, bahkan seseorang yang sedang hamil sejatinya adalah kebahagiaan tetapi masuk rumah sakit dan diopname dengan tulisan sakit hamil (?). Namun yang terkadang membuat saya agak miris hati ialah ketika sesi dialog dengan mereka setelah banyak menguraikan tentang hikmah dibalik sakit. Terkadang saya bertanya, apakah ketika sakit mereka tetap mengingat Allah, apakah mereka tetap beribadah seperti biasa, apakah mereka masih shalat, dan apakah mereka masih menerima takdir Allah atas penyakitnya. Banyak jawaban yang tersedia, ada yang bilang masih shalat, shalat jika ingat, shalat ketika sehat dan tidak shalat ketika sakit, tidak shalat sama sekali ketika sakit maupun sehat, tidak tahu bagaimana tata cara shalat dan bersucinya ketika sedang sakit, shalat pas diingatkan, shalat ketika membutuhkan, shalat karena ingin pulang, tidak shalat karena tidak punya efek atas shalatnya, tidak shalat karena shalat atau tidak sama saja tetap sakit dan tak punya duit, tidak shalat karena tak tahu arah kiblat, tidak shalat karena kotor, dan sekelumit ilmu mengelak bagi mereka yang tidak shalat. Itulah realita yang tersaji didepan mata, terkadang ada rasa bingung ingin memulai darimana, tahapan apa yang tepat, namun ketika sudah terkena tepat, tak jarang diantara mereka simpati, menitikkan air mata, menjabat erat terima kasih, sekedar basa-basi tanda mengerti, atau berupaya memberikan amplop dan sedikit uang hasil kunjungan orang, (walaupun Sahabat Pasien diharamkan menerima ini) atau tak jarang yang sebelum berucap banyak sudah tertidur duluan seakan saya seang berdongeng didepan ratusan anak, atau malah pernah anggota dewan yang terhormat mengkritik uslub saya padahal sejatinya ia yang wajib saya kritik habis sampai naik bis walaupun diakhirnya ia memberikan nomor contact pada saya dan jika ada apa-apa hubungi saja dia. Seharusnya sakitnya seseorang itu adalah sebagai suatu wasilah bagi dirinya untuk mengingat kembali untuk apa ia diciptakan, jika Allah mengatakan dan tidaklah ia menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahnya saja, atau dalam ayat lain Allah bertanya "Apakah mereka mengira diciptakan hanya untuk bermain-main saja, dan mereka tidak akan dikembalikan" atau dalam beberapa ayat bahwasanya eksistensi kehidupan adalah pengabdian kepada Yang Maha Menghidupkan. Bagaimana mungkin seseorang bisa berpaling dari Allah disaat mereka seharusnya berada pada titik-titik Allah mengabulkan doa dan harapan mereka. Disaat seandainya mereka paham atas penyakitnya niscaya akan terampuni dan terhapuskan dosa serta kesalahan mereka oleh Sang Ghafiru Dzambi wa Qaabiluu Tawbii. Jika demikian bagaimana mungkin seseorang bisa berkata ketika sakit ia tidak shalat dan ketika sedang sehat ia shalat, bagaimana pula jika Allah melakukan permainan hitung-hitungan seperti dirinya, jika ia sehat dan shalat maka diberikan nafas sepanjang hari dan jika sedang sakit karena tidak shalat lantas Allah memberikan ia waktu bernafas setengah hari dengan alokasi setengah hari laginya ia mencari nafas sendiri. Subhanallah Walhamdulillah ternyata Allah tidak pernah perhitungan sebagaimana hambanya tersebut perhitungan, sekalipun ia tidak shalat ia masih bisa merasakan kenikmatan. Bisakah seseorang yang seharusnya ia lebih dekat kepada Alah justru malah meninggalkan Allah, justru berpaling dan tak jarang secara tidak sadar menggugat takdir Alah. Mengapa ia bisa meninggalkan kewajiban sedangkan Allah masih senantiasa memberikan kemudahan dirinya untuk bernafas, masih diberikan penglihatan terang di pagi itu, atau dimudahkan merasakan sesuap makanan dari mulai mengangkat sendok hingga ia mencernanya menjadi feses. Benarlah apa yang dikatakan oleh Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallohu Anha, "Tidaklah seorang hamba minum air yang jernih kemudian masuk ke tubuh tanpa kesulitan dan setelah itu keluar kotoran penyakitnya, kecuali wajib baginya bersyukur." (Asy Syukr no 192, Ibnu Abi Dunya). Renungkanlah wahai saudaraku, mengapa kalian rela meninggalkan Allah disaat sakit sedangkan Allah tidak meninggalkan kalian, sudahkah kita membalas kebakan yang Allah berikan sebagaimana Allah katakan, wa ahsin kamaa ahsanalloha ilayk (dan berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik untukmu). Terkadang jika sudah sampai taraf akut apa yang mereka rasakan, maka senjatanya ialah; bapak-ibu boleh tidak beribadah kepada Allah, boleh juga kok melupakan Allah, mencela Allah, berpaling dari Allah, bahkan mau saya tunjukkan dimana tempatnya? Diantara mereka tersenyum maka saat itu juga enaknya dihantam dengan statement, dua tempat untuk merealisasikan itu, pertama ialah silahkan bapak-ibu tinggal ditempat yang tidak dimiliki oleh Allah dan kedua silahkan bapak-ibu tinggal ditempat yang tidak diawasi oleh Allah. Jika sudah tahu tempatnya segera kabari saya. Mau tinggal di Matahari juga punya Allah, tinggal di Bulan juga punya Allah, Venus, Mars, Jupiter, Segitiga Bermuda, Kota mati yang 10 itu, atau Dibawah laut paling dasar, Black Hole, Antartika, Lubang Semut, dll silahkan cari. Kesemuanya juga milik Allah dan ada pengawasan Allah disana. Jadi tidak ada tawar menawar lagi selain tawaran terakhir jika bapak-ibu ingin yaitu bukan tawaran tempat melainkan tawaran keadaan, seseorang boleh melepaskan ibadahnya terutama shalat jika ibu-bapak ingin dalam keadaan, gila, pingsan atau tak sadarkan diri, dan terakhir mati. Jadi siapa yang tak adil, Khaliq ataukah makhluk? Padahal Allah telah memberikan kenikmatan lain atasnya namun pengingkaran itu ada, benarlah yang Allah katakan "innal insana khuliqaa halu'a, idza massahu syarru jazu'a wa idza massahu khayru manu'a". Berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik kepadamu. Itulah sedikit yang bisa dibagi hari ini, jika memang kita tidak punya tempat dan tidak ingin keadaan seperti itu maka kita tetap mendapatkan beban untuk senantiasa mengingat Allah, menyembah Allah, dan terus dekat dengan Allah. Ini Bumi Allah, milik Allah maka wajib bagi kita untuk terus mengabdi kepadanya. Jika seorang kontraktor (pengontrak rumah) saja akan ditagih terus dan bisa jadi diusir jika tidak memenuhi kewajibannya bagi kepada pemilik lantas bagaimana dengan kita. Kesadaran diri adalah hal yang penting disaat banyak nikmat gratisan yang kita miliki. Nafas yang bebas, pandangan yang luas, pendengaran yang tenang, lisan yang punya wewenang, dan semua itu diatur dengan sekat batas. Batasan dan aturan yang telah Allah turunkan kepada setiap hambanya. ~sedikit bocoran atas konsep spiritual healing kami (saya dan istri *.pinjem ikhwan yang suka bawa-bawa istrinya disetiap tulisan kemana-mana*..hahaha langsung heboh!! belum ada hipnoterapi, psikoterapi, dan spiritual emotional atau quantum-quantum apalah lho yaa yang saya pikir ribet. cukup praktis dan punya efek, selesai ngombe, madang, mbayar, bubar blas teko neng omah)~
 Alhamdulillah, tadi pagi mbak Emma salah satu rekan kerja saya bimbingan di Rumah Sakit Jiwa sms menanyakan materi apa yang dibawa unuk senin besok. Ibu dua anak itu berkata masih tentang Al Qur’an saja biar pas satu bulan bahasan kita soal Al Qur’an, saya jawab setuju tanpa ba-bi-bu yang menandakan saya harus kembali belajar lebih giat lagi untuk menguasai materi. Pekan sebelumnya saya kasih masukkan kepada mbak Emma agar materinya tentang kejujuran, sebab lebih mengena setelah momentum Ramadhan ini. Namun walaupun saya bertindak sebagai koordinator tidak serta merta dapat memberikan masukkan apa yang bisa diberikan dalam bimbingan. Atmosfer Rumah Sakit Jiwa dengan dinding yang tinggi membuat saya rindu, bukan untuk menjadi pasiennya -waliyadzubillah-, namun merindukan saya untuk senantiasa mensyukuri nikmat dari Allah atas diri saya. Di RSJ tidak seperti di rumah sakit lain. Disana kita dituntut untuk lebih pengertian dengan keadaan yang ada. Seorang Sahabat Pasien harus memenuhi kebutuhannya sendiri tidak seperti di rumah Sakit lain yang segala sesuatu acapkali di fasilitasi. Tapi di RSJ kita dituntut mandiri agar mengerti. Berbicara soal mengerti, maka izinkan saya untuk berbagi banyak atau sedikit hal tentang ini. Kita seringkali hidup dengan banyak sisi bahkan tak ayal sisi satu dengan yang lain berbenturan. Tentunya bukan keinginan kita namun hal tersebut memang sebuah jalan hidup yang telah digariskan. Seseorang harus belajar mengerti sebelum dirinya dimengerti oleh orang lain. Seseorang tidak boleh punya watak arogansi agar orang lain dapat memberikan perhatian kepadanya terlebih dahulu dan seenak perutnya saja. Melainkan seharusnya dialah yang memberikan pengertian terlebih dahulu. Bukankah seorang guru tidak akan bisa memberikan tugas kepada para muridnya sebelum si guru tersebut memberikan pengertian kepada mereka, lantas mereka (para siswa) mengerti maksud yang diinginkan oleh guru tersebut dan patuh mengikuti aturan dalam mengerjakannya. Bukankah pula kita juga mengenal tentang analogi tarik menarik, sebuh benda akan memberikan reaksi balik yang sama apabila ada dasar dan gaya tarik-menarik yang tepat. Jika kedua benda diam atau hanya satu benda saja yang menarik tanpa mendapatkan reaksi balik. Maka hal demikian tidak disebut sebagai suatu sistem bukan? Dalam Islam, bukankah seseorang jika dirinya menginginkan rezeki lebih banyak lagi diperlukan sebuah rasa saling memberi lebih banyak lagi kepada mereka yang hidup disekitarnya dan membutuhkan sesuatu bagi dirinya? Itulah hakikat sebuah pengertian bagi saya, menjadi seorang Sahabat Pasien membawa saya kepada dunia tanpa batas dalam menemukan berbagai teori serta definisi. Tidak perlu susah-susah menghafalkan teori dan makna tersembunyi dibaliknya. Teori yang baik ialah dari diri kita sendiri dan mendedikasikannya bagi orang lain. Jadi seseorang apabila ingin dimengerti oleh rang lain, hendaklah ia harus memberikan pengertian kepada orang lain. Proses pengertian akan melahirkan sebuah proses memahami. Proses memahami yang paling tinggi ialah dicapai pada sebuah hubungan rumah tangga ataupun persahabatan sejati. Jika sebuah hubungan hanya menepuk sebelah kaki untuk mengerti tanpa berusaha menepuk kaki lain. Mana mungkin sebuah sinergi tubuh untuk berjalan dapat terealisasi. Seperti judul tulisan ini yakni belajar mengerti dan hanya sekedar opini. Setiap orang punya pendapat berbeda atas banyak hal dan sudut pandang beserta garis tinjau yang berlainan tentang masalah ini. Dan sebuah kesalahanmestilah dimaafkan. Sebab saya sedang belajar untuk lebih banyak mengerti, bagaimana dengan anda?
diambil dari: TULISAN GW SENDIRI
Pantura katanya macet lagi semenjak lonjakan arus pemudik memuncak malam tadi. Orang-orang ramai bicara tentang suasana berbeda tentang ramadhan kali ini, saya pun melihatnya sungguh berbeda dan banyak sekali perbedaan sangat bernilai suasananya. Kemarin waktu saya mencukur rambut di salah satu tempat tak jauh dari rumah, ketika memarkirkan motor didepan tempat tersebut, sang tukang cukur baru saja keluar sambil mengunyah sisa makanannya di kedai bubur kacang hijau samping tempat usahanya, didalam ada seorang pria paruh baya sedang asyik tertawa ria dengan handphone bagian tubuh sebelah mata. Tak lama rambut saya dipangkas, si mas itu menyeruput secangkir kopi dan menyalakan puntung yang baru saja mati.
Jauh sebelumya, di dekat fly over Daan Mogot disaat pagi hari menuju aktifitas ke RS. Cengkareng. Para sopir bis berbaris duduk mengunyah makanan dan memesannya tanpa kenal bulan apa dan ada apa hari itu. Entah pemandangan seperti ini semakin terbiasa di negara ini. Mungkin mereka berfikir bahwasanya puasa bukan suatu kewajiban yang memasakan, atau juga mereka berfikir bahwasanya buat apa puasa jika shalat saja tidak dikerjakan, mereka juga berfikir bisa jadi puasa dan tidak puasa sama saja tak merubah keadaan justru memperburuk keadaan; si miskin jadi makin miskin sedangkan si kaya berebut keuasaan dengan lipstik berwarna-warni menginjak si miskin kelak, dan alasan-alasan lainnya.
Sungguh himbauan pemda ditahun-tahun dahulu sudah tidak dirasakan lagi. Biasanya setiap masuk Ramadhan para pemerintah daerah menghimbau agar warung makan tidak membuka atau menutup dagangannya dengan benda-benda yang tidak membuat mereka yang berpuasa tergiur. Namun sekarang sudah terbiasa dan nuansa puasa dan sama sekali tak beda. Saya jadi ingat ketika masih kuliah aktif tahun-tahun lalu, teman-teman sekelas yang pria sudah menjadi barang biasa buka bersama sebelum waktunya. Atau belakangan saya jadi teringat dengan pasien-pasien di Rumah Sakit Jiwa, betapa mereka ingin berpuasa namun para dokter belum membolehkan sebab terikat dengan obat yang harus dikonsumsi dengan jadwal tepat.
Betapa pasien di Rumah Sakit Jiwa yang saya yakin mereka sedang berada dalam kondisi diluar normal dengan gangguan kejiwaannya, namun jika ditanya apakah mereka ingin puasa, serempak akan menjawab iya. Berbeda halnya dengan orang normal belakangan ini, fisiknya kuat, usianya muda, kondisinya normal, dan rata-rata pria. Namun sayang sekali mereka lebih suka untuk tak berpuasa. Mengapa tidak menukar saja dengan pasien Rumah Sakit Jiwa?
Waktu masih kecil dahulu, sungguh aib bagi orang yang puasa setengah hari. Teman sebaya mungkin akan menyindir dengan sindiran kurang mengenakkan saat puasa hanya setengah hari. Dahulu ketika bulan Ramadhan sebelum mereka tidak berpuasa seperti itu, mereka harus bersembunyi jika ingin berbuka dikolong meja, dikamar mandi, disemak-semak asal tak terlihat oleh orang tua walaupun teman sebelahnya yang dipaksa berbuka seringkali berkata “Allah melihat kita lho”.
Ataukah mereka sedang dapat haidh seperti layaknya wanita yang dapat jatah libur menunaikan kewajibanya setiap bulan, saya jadi teringat dengan kisah dijaman Umar bin Khatthab radhiyallohu anhu, ketika ia menjelaskan soal pria haidh adalah pria yang menjulurkan kain celananya hinga menutupi mata kaki. Sebagaimana dalam sebuah atsar, Dari Kharsyah bin Al Hurr rahimahullah, ia berkata : saya telah melihat Umar bin Khattab dan pada saat itu seorang pemuda yang isbal (panjang kain hingga menutupi mata kaki) sarungnya dan menyeretnya ke tanah lewat di hadapan beliau. Lalu beliau memanggilnya dan berkata kepada pemuda itu, “ Apakah engkau haidh ? “. Ia menjawab (pemuda) : “ wahai Amirul Mukminin apakah laki-laki juga haidh ?”. Umar radiyallahu anhu berkata : “ lalu kenapa engkau menurunkan sarungmu sampai menutupi kakimu !!” Lalu beliau meminta pisau kemudian mengumpulkan ujung sarungnya dan memotong apa yang melewati mata kakinya. (Ibnu Syaibah 8/993 dengan sanad yang shahih.)Namun kini para pria haidh adalah pria yang sudah terlepas dari kewajibannya melaksanakan syariat. Apakah mereka tak takut bila kematian menjemput dirinya saat ia menelantarkan syariat kewajiban Allah atas hambanya. Pria pun kini haidh, dan kini pun mereka telah angkuh dengan meninggalkan syariat dari Rabbnya.
diambil dari : http://rizkiaji.blogdetik.com/2008/09/28/lezatnya-buka-bersama/
Suatu ketika Rasulullah pernah berkata, “Setiap anak Adam memiliki kesalahan, dan sebaik-baik kesalahan adalah bertaubat”.
 Ya, setiap orang tentunya memiliki kesalahan, entah itu kepada orang lain, kepada lingkungan sekitarnya, kepada makhluk hidup yang kadang disakiti tanpa pernah mengerti hak hidup makhluk tersebut, atau bisa jadi karena seseorang memiliki kesalahan atas dirinya.
Terkadang pula berbagai hal kita bela secara mati-matian agar dapat meraih maaf dari orang-orang yang pernah punya keterkaitan kesalahan dengan diri kita. Bisa jadi para pimpinan yang ingin mutasi jabatan lantas meminta maaf kepada bawahannya, seorang kepala negara banyak mengucap maaf atas kepemimpinannya agar rakyat melupakan kesalahannya yang telah lalu dan memberi kesempatan atas dirinya untuk menebus itu semua dengan mencalonkan lagi, atau seorang kekasih yang pernah menyakiti hati kekasihnya dan mengharapkan cinta bersemi kembali dengan ribuan maaf.
Permintaan maaf seringkali beriringan dengan pemberian, bisa jadi pemberian barang yang disukai dengan orang yang akan kita mintakan maaf, ataukah justru pemberian menyakitkan untuk memaafkan kesalahan masa lalu dan menggantinya dengan kesalahan baru. Namun soal pemberian maaf ini, acapkali kita terlupa dengan permintaan maaf secara hakiki. Sebuah permintaan maaf yang selalu kita lupakan dan telantarkan. Permintaan maaf dari diri kita untuk kita pribadi.
Entah sudah berapa lama kita hidup di dunia yang sangat cepat sekali pergantian waktunya, terkadang kita banyak merenda harapan dan menyusun tujuan sebelum kita sampai ke tempat tujuan, namun waktu berkata berbeda untuk mengakui semua rencana dan harapan itu kandas begitu saja dengan tibanya kesalahan yang disebabkan melesetnya sebuah perhitungan.
Memaafkan diri sendiri ialah hakikatnya kita belajar untuk lebih banyak mengenal diri sendiri, terlalu banyak waktu kita untuk mengenal orang lain, belajar mencintai orang lain, berkeras hati untuk memahami suatu posisi demi mendapatkan posisi yang dicari. Namun kita terlupa untuk mengenal diri sendiri, mengenal setiap jengkal bagian tubuh kita untuk apa digunakan dan untuk apa semua itu ada bagi diri kita. Lupa adalah hal yang sangat biasa bagi setiap manusia, namun lupa untuk memaafkan kesalahan diri kita atas diri kita sendiri adalah suatu petaka.
Berapa banyak langkah kaki kita yang telah digiring kepada jalan-jalan kemaksiatan, berapa banyak alokasi waktu yang digunakan otak untuk memikirkan hal-hal demi mencelakakan rang lain, berapa banyak hati dan sebuah perasaan kita untuk menghina dan mendzhalimi orang lain, tangan yang terlalu banyak digunakan untuk menyikut kanan dan kiri demi sebuah ambisi, telinga yang acapkali digunakan demi mendengar fitnah dan caci maki, dan lisan yang mengiris perasaan orang lain serta menghancurkan tulang rusuk setiap insan lainnya.
Pernahkah kita semua berfikir untuk memaafkan semua organ tubuh yang telah dilakukan untuk hal-hal diatas? Pernahkah anda, saya, atau mereka memahami untuk apa sebenarnya organ tubuh itu semua diciptakan? Atau pernahkah kita berusaha memaksimalkan potensi itu semua untuk menabung biaya hidup dalam kehidupan selanjutnya agar tidak merugi? Jawabannya berada pada diri masing-masing, setiap orang harus berbesar hati memaafkan dirinya atas kesalahan diriny. Jika hakikat bertaubat kepada Tuhan ialah ia memohon ampun atas kesalahannya dan tidak akan melakukan kesalahan serupa atau lebih besar dari sebelumnya. Maka kekuatan meminta maaf kepada diri sendiri atas kesalahan yang pernah dibuat diri pribadi adalah memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya untuk lebih banyak berbagi, menebarkan energi positif, mengumpulkan visi dan misi lantas merealisasikan demi orientasi kehidupan selanjutnya.
Mari bersama, wujudkan hidup lebih bermakna. Jika bukan sekarang, kapan lagi?
tulisan diambil dari: http://rizkiaji.blogdetik.com/2008/09/20/meminta-maaf-atas-pribadi/
Siapapun pasti pernah merasakan sakit dalam hidupnya, jangankan yang hanya manusia biasa, seorang Nabi saja bisa merasakan sakit. Jadi musykil bila ada orang mengaku sakti tapi pernah sakit. Sebab permainan kata antara sakti dan sakit sangat erat di negari tercinta ini. Sakit adalah ujian dari Allah Ta’ala kepada setiap orang, tidaklah ia miskin atau kaya, pria atau wanita, muda atau tua, pegawai ataukah pengangguran, amatiran ataukah profesional, dan berbagai macam perbandingan lainnya pasti merasakan sakit. Bohong pokoknya kalo ada orang ngaku gak pernah sakit. Sakit itu terbagi sama sebagaimana sehat, ada yang disebut sakit jasmani, rohani, bahkan perpaduan diantara keduanya.
biar gak nambah sakit, silahkan aja klik DIIIISIIIIINNNNIIII
Rumah Sakit Jiwa Soeharto Heerdjan Grogol, Senin 11 Rajab 1429 H / 14 Juli 2008. matahari pagi disaat pukul 10.00 WIB menyapa dengan hangatnya. Hari itu merupakan kali kedua dalam jadwal bimbingan rohani pasien saya di RSJ. Setelah pekan lalu sempat mengisi dan tidak terlalu penuh kejutan melainkan penuh dengan deg-degan. Pagi ini saya berangkat sendiri yang biasanya kami bertiga menaiki taksi dari kantor. Para akhwat lebih dahulu berangkat untuk membeli keperluan bagi para pasien. Kami menggunakan sistem halaqoh selama 3 bulan, sebab masih dalam tahap observasi situasi dan kondisi sambil memikirkan konsep kedepannya bimbingan di RSJ tersebut. Pasien RSJ kami perlakukan beda dengan pasien normal di RS reguler lain. Tiap kali akan bimbingan disini, kami pasti membeli perlengkapan dan keperluan konsumsi bagi para pasien yang mengikuti bimbingan (para pasien bilang pengajian). Dalam istilah psikologi dikenal dengan nama reward, serta biasanya akan ada hadiah buku saku pasien untuk pasien yang aktif mengikuti pengajian.
mau tahu kelanjutan ceritanya? silahkan deh jangan ragu-ragu buat mengklik DISINI
Sungguh sulit menemukan ibu di kota besar yang sedang mengajarkan anaknya membedakan warna, mengajarkan sang buah hati mengenali tetangga sambil menyuapi makan sorenya, memberikan si kecil di malam hari cerita yang menenangkan hati dan membuat pulas tidur, dan aktifitas lain yang membantu tumbuh kembang kecerdasan serta keterampilan sang anak.
klik DISINI untuk melanjutkan tulisan
Olahraga adalah suatu aktivitas gerak yang dapat menimbulkan kesehatan bagi pelakunya, oleh karena itu mereka yang berolahraga disebut sebagai olahragawan, atau bahasa kerennya disebut atlet. Dan bagi setiap muslim memang dianjurkan untuk melakukan gerak raga sebagai implementasi sehatnya jiwa. Islam tidak pernah membatasi ruang gerak keduniaan seseorang termasuk olahraga apa yang disarankan. Sekalipun dalam sebuah hadist disebutkan tiga olahraga yang termasuk sunnah diantaranya, berenang, berkuda, dan memanah.
klik DISINI untuk meneruskan membacanya
Libur pun kini telah usai, hari esok kembali terbentang di depan mata, harapan kembali tergambar, dan cita-cita pun laksana tak lepas dari ingatan. Setelah dua pekan dihinggapi rasa bosan akan libur sekolah tanpa tahu harus apa yang diisi saat liburan. Dan sungguh merindukan sekolah tercinta dengan ragam aktivitas sahabat serta staff pengajar tercinta membuncah menjadi saat-saat yang ingin disegerakan. Liburan pekan pertama diisi dengan hari-hari penuh kebosanan, bosan akan apa yang harus dilakukan, sedangkan liburan pekan kedua berisi waktu yang cepat, mengapa liburan cepat akan berakhir disaat sedang asyik menikmatinya.
Klik aja DISINI buat meneruskan perjalanan membacanya
Lihatlah di kota besar ketika malam libur tiba, para pemuda-pemudi asyik mengelilingi jalan raya sembari berpeluk mesra diatas tunggangan istimewa sang pria. Tak dapat dipungkiri lagi bahwa tunggangan istimewa tersebut kini mudah didapat, bayangkan hanya dengan dana Rp. 200.000 seseorang telah dapat membawa pulang motor kedalam rumahnya. Sepeda motor kini, merupakan jumlah populasi terbanyak di Jakarta, ketika pemerintah daerah tersebut sudah kesulitan mengatasi kemacetan yang semakin runyam dengan tambahan pembangunan disana-sini, maka warga masyarakat pun menjadikan sepeda motor sebagai alternatif pilihan.
gak enak sebenernya nyuruh-nyuruh, tapi daripada tanggung mending klik disini deh
Sudah bukan barang yang baru lagi ketika remaja kita terjangkiti demam semangat menuntut ilmu agama, hampir disetiap sekolah, bangku kuliah, bahkan di lingkungan rumah. Pemuda lagi-lagi menjadi agent of change dalam kehidupan beragama kali ini.
Dahsyatnya energi semangat itu membuat letupan positif dalam kehidupan sehari-hari, mereka yang bergelar aktivis dakwah menebarkan sebuah cita rasa di sekitar lingkungan tempat mereka berada. Semangat di awal ketika kembali menemukan telaga yang penuh kenikmatan akan segera menjelma menjadi samudera yang harus dilalui dengan bahtera. Bahtera yang mesti dipertahankan agar tak kandas di tepi, melainkan dakwah jangan terhenti. biar makin seru, silahkan klik aja di SINI
Setelah pergulatan yang menentukan beberapa waktu lalu. Kali ini para pelajar yang berada ditingkat akhir berada dalam fase harap-harap cemas, selain angka kelulusan standar yang naik dari tahun ke tahun, ujian kali ini sangat jauh dari prediksi yang mereka ikuti dalam setiap sesi try out. Kejamnya, pendidikan yang dijalani selama 3 tahun lamanya sedang dipertaruhkan di altar suci Ujian Nasional yang hanya berlangsung satu pekan. teruskan lagi membacanya yuk dengan mengklik DISINI
Masih inget gak di era tahun 80’an, mode kostum yang lebih variatif dan ceria beraneka warna serta gaya. Di era ini pula banyak aliran musik (!) tumbuh subur menjamur. Sehingga menyebabkan model busana yang atraktif bertabur. Tapi gak disini apa yang kita bicarakan, letaknya adalah soal busana yang sekarang marak dikalangan pemuda jaman sekarang kembali terulang lagi. Ada sedikit asumsi soal ini bahwa jaman bukan selalu berubah, tetapi jaman senantiasa berulang!
Kita lihat kostum yang dikenakan pemuda jaman sekarang khusunya para pelajar, dalam keseharian disekolah terkadang tata tertib sudah tak lagi digubris. Yang ada ialah trend dan dipakenya itu enak ma nyaman. Maka terserah apa kata orang, karena mereka akan mengatakan “ini gaya gw...!”
lagi-lagi saya ajak buat mendalami tulisan ini dengan mengklik DISINI
Judul tersebut bukan mau menandingi sebuah novel laris manis karya sarjana Al Azhar Mesir yang fenomenal nan monumental, bukan pula mau menandingi pemerintah yang sedang gencar di mass media dalam mengkampanyekan pemberhentian sistem bahan bakar bersubsidi, bahkan bukan pula membahas tentang urusan halal ataupun haramnya pacaran (karena kami yakin, teman-teman lain penulis di situs ini telah menyiapkan soal tersebut). Tulisan ini ditujukan hanya untuk mengasah daya nalar dalam berfikir dan menyadari sebuah realita yang ada aja kok, gak lebih.Biar lebih seru dan gak terkesan nanggung, mari klik DISINI
Berawal dari sebuah kekaguman terhadap seseorang maka dimulailah sebuah fase saling interaksi. Awalnya bisa jadi tidak saling mengenal namun berbuntut sebuah komunikasi. Adalah sebuah fenomena yang masa sekarang telah menjadi sebuah realita diantara mereka yang lebih banyak disebut sebagai aktivis dakwah maupun para penuntut ilmu agama.
Sebelumnya, adalah sebuah interaksi mengenai tanya-jawab agama dan seiring berjalannya waktu hubungan yang semestinya wajar menjadi sangat tak wajar. Saling berbagi adalah tahap dasar perkenalan yang dapat membawa ke liang kemaksiatan lebih dalam ketika apa yang sebelumnya diinginkan telah terjawab, dan sebuah hubungan berubah lebih dalam. Terkadang bertanya kabar, sedang apa, dimana, bersama siapa, bagaimana, dan sekelumit pertanyaan lainnya layaknya sepasang suami-istri yang baru sebulan menikmati kehalalan sebuah hubungan. untuk lebih lengkapnya klik aja DISINI
Dimanapun anda berada dalam belahan bumi Indonesia, udah bukan jadi barang tabu lagi dengan ucapan nongkrong, sebenernya ada banyak istilah yang mengiringi pengucapan nongkrong. Bisa jadi disebut kongkow, bisa juga disebut macem-macem istilah lainnya coz ga ada standar baku yang mengatur ucapan hal ini.
Sebuah perbuatan yang sebenernya udah menjadi keakraban tersendiri di kalangan pemuda pujaan wanita ataupun boleh juga disebut pemuda harapan bangsa. Eitttssss... tunggu dulu, bukan letak boleh ato nggaknya kita kongkow, bukan pula sekarang kita ngebahas bagaimana cara nongkrong yang sehat. Tapi kali ini izinkan kami mengangkat sebuah tema yang lebih membuat senyum sobat muda mengembang sehingga kami dapet pahala karena senyum itu.
Lanjutkan membacanya dengan mengklik disini
“Kematian itu pasti datang dan akan terjadi pada setiap makhluk yang bernyawa, setiap makhluk pasti akan mati, maka bersiaplah akan mati..... adakah disini yang berani menjamin bahwa ia masih dapat hidup 10 menit kedepan?! Jika ada maju kedepan dan katakan dengan lantang..!”
Seperti itulah suasana pesantren sabtu-ahad yang diadakan oleh salah satu sekolah tingkat atas di bilangan Bekasi. Ustadz yang berceramah mencoba memberikan shock therapy bagi para pemuda agar kembali memikirkan orientasi dari kehidupan dunia yang sedang dijalani. Identik dengan masa muda maka salah satu jargon seringkali terbaca dengan istilah ‘balita hura-hura, muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga’. Seperti itulah jargon yang kadangkala berdengung seru untuk mempelajari dan menelaahnya kembali apa hal dibalik seruan tersebut. Dan yang sangat tak masuk akal adalah ucapan ‘mati masuk surga’ seakan-akan mereka yang berkata demikian telah mendapatkan janji surga dan melihat surga telah berada di genggaman tangannya. Padahal para sahabat sebagai orang-orang yang terbaik dan telah mendapatkan janji surga masih tetap melaksanakan amal ibadah dalam kesehariannya. Bahkan hal ini juga terjadi pada diri Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam yang senantiasa mensyukuri nikmat dari Allah azza wa jalla.
silahkan meneruskan bacanya dengan mengklik disini
udah gak jadi sesuatu yang basi lagi kalo fenomena sekarang banyak orang punya nama aneh-aneh. Hal ini disebabkan mungkin dulu orang tuanya punya semangat tinggi agar nanti si anak punya nama yang ‘dirasa’ atau ‘dianggap’ bagus dan mengikuti perkembangan jaman, juga sekaligus enak didenger sekaligus trendi. Para ortu memberikan nama anak di jaman kini pun lebih heboh lagi, yang awalnya mungkin manusia dahulu gak terpikirkan ngasih nama anak dengan kalimat, sekarang justru malah merebak dimana-mana. Orang-orang bilang namanya punya ‘taste’ tersendiri, juga menyimbolkan bahwa kesan pertama yang terlintas ia berasal dari keluarga yang terpuji dikarenakan namanya yang punya arti dalam dan makna yang dahsyat walaupun gak sedikit juga yang tau kalo nama-nama itu diambil asal copy paste dari buku-buku yang marak menyajikan nama-nama indah buat si anak. Sebagian besar justru dilakukan sama mereka-mereka kaum muslimin sebagai agama terbesar dan terbanyak pemeluknya di Indonesia. Sungguh aneh sih jika seandainya orang dulu yang lebih punya pengalaman dan lebih punya pemahaman tinggi kalo misalkan ngedenger nama-nama anak jaman sekarang, karena buat mereka nama anak harus dibuat se-simpel mungkin. Oleh karena itu jangan ketawa kalo ada orang yang punya nama cuman Susilo, Ngatiyem, atau Bejo. Namun dijaman sekarang nama-nama begituan dah gak jamannya lagi, sebagian besar masyarakat di bumi pertiwi ini lebih cozy (nyaman) kalo pake nama yang panjangnya kayak kereta atau beratnya kayak truk kontainer. terusin lagi bacanya biar seri dengan mengklik
tulisan ini
Ketika mengatakan pemuda maka akan banyak pandangan menafsirkan dengan berbagai kemungkinan dan pendapat terhadap sifat yang ditujukan, pemuda sebagai sosok yang enerjik, pemberani, penuh dengan rasa penasaran, bahkan seringkali disifati dengan jiwa yang penuh emosi dan labil. Dalam panggung sejarah ke-Indonesiaan pemuda menjadi peran penting dan penegak supremasi dalam berbagai hal dan kebijakan, tak lepas dari peran serta pemuda diantaranya ialah kemerdekaan atas penjajah dan era reformasi yang tumbang karena kiprah para pemuda penentang status quo. Web ini dibangun atas dasar jiwa muda pula yang bertujuan agar dapat memenuhi rasa penasaran para pemuda (maaf kalo disebut pemuda maka bermakna general, tanpa harus pemudi disebutkan pula..tak ada sama sekali maksud bagi kami untuk menegaskan bahwa kami diskriminan terhadap gender). Web ini dilatarbelakangi oleh adanya perasaan untuk saling berbagi pengalaman, motivasi, inspirasi, dan kontribusi lainnya demi mengharapkan tumbuhnya jiwa muda yang cerdas dan penuh semangat (agak klise banget, tapi doakan aja sobat semoga terealisasi, bukankah semua hal berawal dari mimpi?). Web ini pula kami bangun dengan harapan agar wawasan ke-Islaman pemuda sebagai agama mayoritas yang dianut oleh rakyat Indonesia ini mengalami kemajuan dalam berbagai hal, tidak diam ditempat dan stagnan dengan cekokan ideologi dari berbagai kalangan yang tak jelas rimbanya. Sehingga kami memberikan sebuah inovasi baru dalam wawasan berfikir keIslaman pemuda di Indonesia, lebih dari sekedar paradigma yang melenakan mata tapi sebuah penanaman benih kebenaran yang terangkum dalam sebuah postulat bernama Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para sahabat radhiyallohu anhum jami’an. Jika sekarang bangsa harus bangkit maka kebangkitan itu hendaknya dimulai oleh para pemuda Islam yang pantas memegang panji-panji kejayaan untuk negara yang tercinta ini. Bukan masalah apakah perseteruan tentang siapakah yang akan menjadi presiden dan wakil presiden, apakah yang muda harus memimpin bangsa, apakah pemuda harus menjadi garda terdepan dalam tonggak politik di Indonesia, dan sederet apakah lainnya. apa dan dimana sih web itu sekaligus melanjutkan bacaannya yuk dengan mengklik ini
| |